karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

News

Meningkatkan Keterampilan Perawat

Tingkat keterampilan tenaga perawat di Indonesia dinilai masih rendah, sehingga permintaan dari luar negeri untuk merekrut perawat dari Indonesia sangat minim. Sebagai salah satu upaya meningkatan kualitas keperawatan, pada 2011 ini Stikes Budiluhur Cimahi menjalin kerja sama dengan Filipina. 

Wali Kota Cimahi, H.M. Itoc Tochija mengaku bangga Stikes Budiluhur dapat membuka kerja sama dengan Filipina. Karena seperti diketahui, Filipina menjadi negara pengekspor tenaga perawat terbesar ke negara-negara maju di Eropa, Amerika, dan negara-negara di Timur Tengah.

“Pemerintah mendukung dan berkomitmen bersama-sama dengan Stikes Budiluhur dalam mencetak tenaga perawat untuk go international dengan menjalin kerja sama pendidikan keperawatan Indonesia-Filipina,” ungkap Itoc saat menghadiri launching dan penandatanganan MoU Stikes Budiluhur dengan Pendidikan Keperawatan Filipina, yang dihadiri Dubes Filipina, H.E. Maria Rosario C. Aguinaldo, di kampus Stikes Budiluhur, Jln. Leuwigajah, Selasa (1/3).

Itoc menilai kerja sama peningkatan mutu keperawatan di Stikes Budiluhur akan meningkatkan kualitas perawat di Cimahi. Pasalnya, 60% mahasiswa Stikes merupakan warga asli Cimahi.

Direktur pendidikan keperawatan Indonesia-Filipina, Prof. Carmen Toribio Ramos R.N., M.Ph., D.N.E. mengatakan, saat ini Filipina menjadi panutan dalam peningkatan derajat dan kualitas keperawatan. Sehingga, lulusan perawat di Filipina lebih banyak mengais dolar di negeri orang. Sedangkan jumlah perawat di dalam negerinya menjadi berkurang. Melalui kerja sama ini diharapkan kualitas perawat di Indonesia dapat setara dengan perawat di Filipina.

“Sekarang Indonesia dan Cimahi benar-benar menjadi rumah kedua saya setelah Filipina. Karena pendidikan keperawatan dilakuan secara serius. Berdasarkan laporan badan PBB, untuk dekade mendatang dibutuhkan 4 juta tenaga keperawatan yang berkualitas internasional. Menghadapi kebutuhan perawat yang hebat, mengapa Indonesia tidak bisa,” ujarnya.

Kendati menerapkan sistem pendidikan keperawatan di Indonesia, Carmen mengaku tenaga perawat asal Filipina tidak perlu tersaingi. Carmen pun meminta wali kota agar Klinik Budiluhur meningkat menjadi laboratorim pelatihan dan pendidikan dengan setting rumah sakit internasional. “Kami berjanji kepada wali kota klinik tersebut akan memenuhi standar amdal,” ujarnya.

Ketua Stikes Budiluhur, Ijun Rijwan berjanji dalam lima tahun ke depan pihaknya akan mengirimkan tenaga perawat yang berkualitas ke negara-negara di Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.

“Untuk mewujudkannya, pada awal 2011 ini kami sudah membangun atmosfer akademi, menambah tenaga dosen serta menyekolahkan dosen ke Filipina,” katanya. (B.109)**

sumber : Rabu, 02 Maret 2011


Lulusan Perawat Akan Dikirim ke Luar Negeri

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Budi Luhur Kota Cimahi, Ijun Rijwan Susanto mengatakan, pihaknya menargetkan pada lima tahun ke depan akan mengirimkan lulusan sekolahnya ke luar negeri. Seperti ke Amerika, Eropa, dan Filipina.

Saat ini pihaknya masih merancang kurikulum internasional dengan mendatangkan pengajar profesional dari Filipina. Hal itu untuk mempersiapkan tenaga ahli sesuai kebutuhan negara yang akan dikirimkan.

“Kami sedang mencanangkan go international, dan membangun atmosfer akademik. Selain itu juga pengembangan tenaga dosen ke Filipina, karena negara itu nomor 1 dalam pengembangan pendidikan kesehatan,” ujarnya, Selasa (1/3) .

Wali Kota Cimahi, Itoc Tochija menambahkan, pihaknya sedang membangun komitmen, khususnya bidang pendidikan. Menurutnya, saat ini sudah memasuki dunia global.

“Selama ini kami belum membangun sister city. Kalau dalam forum, ada forum wali kota untuk bertukar informasi antar negara-negara di Asia,” ujarnya. (guy)

sumber :

Selasa, 1 Maret 2011 | 15:02 WIB

STIKes Budi Luhur Go International Jalin Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi Keperawatan Filipina

Keterbatasan anggaran pemerintah membuat peran aktif masyarakat dan swasta sangat diperlukan dalam pengembangan pendidikan di Kota Cimahi. Saat ini pemkot baru bisa memfokuskan diri untuk penuntasan pendidikan dasar sembilan tahun, sehingga pengembangan pendidikan tinggi memerlukan peran aktif pihak lain.

Walikota Cimahi Itoc Tochija mengatakan, pendidikan saat ini menjadi salah satu prioritas utama Pemkot Cimahi. Pasalnya pendidikan merupakan sektor penghasil sumberdaya manusia berkualitas untuk pembangunan Cimahi. Terlebih dengan terbatasnya sumberdaya alam di kota kecil yang terdiri atas tiga kecamatan itu.

Di sisi lain, perguruan tinggi di Kota Cimahi diharapkan bisa menjalin hubungan saling menguntungkan dengan pemkot dan masyarakat. Perguruan tinggi diharapkan bisa mencetak tenaga kerja berkualitas untuk pembangunan. “Sementara pemerintah dan masyarakat bisa menjadi klinik studi bagi perguruan tinggi,” katanya seusai Pencanangan STIKes Budi Luhur Go International, Selasa (1/3).

Acara tersebut juga dihadiri Duta Besar Filipina untuk Indonesia Maria Rosario C. Aguinaldo dan ahli keperawatan Filipina Prof Carmen Toribio Ramos. Kehadiran keduanya juga dalam rangka meresmikan kerjasama antara STIKes Budi Luhur dengan perguruan tinggi keperawatan Filipina.

Sejauh ini, tambah Itoc, Pemkot Cimahi sendiri sudah menjalin kerjasama yang cukup baik dengan perguruan tinggi di Kota Cimahi dan Kota Bandung. Bersama Unpad dan ITB, Pemkot Cimahi pernah melakukan kajian terkait masalah sampah. Sementara dengan STIKes Budi Luhur telah menjadi salah satu penghasil tenaga perawat terbaik di Cimahi.

Saat ini STIKes Budi Luhur 60 persen mahasiswanya adalah warga Cimahi. “Ini bentuk komitmen yang baik untuk meningkatkan kualitas SDM Kota Cimahi,” tutur Itoc.

Sementara itu, Dubes Filipina Maria Rosario mengatakan, pemerintah Filipina akan mendukung dan memfasilitasi penuh setiap kerjasama antarlembaga pendidikan Indonesia dan Filifina. Seperti diketahu, Filipina saat ini memang diakui dunia sebagai penghasil tenaga perawat terbesar dan terbaik.

Melalui kerjasama seperti ini, Maria berharap Kota Cimahi khususnya dan Indonesia umumnya, juga bisa menghasilkan tenaga perawat yang kualitasnya diakui dunia internasional. “Dengan pengembangan berkelanjutan, saya yakin Indonesia juga bisa mengekspor tenaga perawat ke luar negeri,” katanya.

Optimisme serupa diungkapkan Ketua STIKes Budi Luhur Ijun Rijwan Susanto. Menurut dia, pihaknya telah menargetkan untuk dapat mengirimkan lulusan ke Amerika, Eropa, dan Filipina pada lima tahun mendatang.

Langkah persiapanpun kini tengah dilakukan dengan perancangan kurikulum internasional dan mendatangkan pengajar profesional dari Filipina. “Hal itu untuk menyiapkan tenaga ahli sesuai kebutuhan di negara yang dituju,” ujarnya.

Selain itu, Kata Ijun, tahun ini STIKes Budi Luhur juga telah mengirimkan empat tenaga pengajarnya untuk belajar di Filipina. (A-178/das)***

sumber : Selasa, 01/03/2011 – 11:00 ©  Pikiran Rakyat ON LINE


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.