Cerita Sendiri
Saat ketika saya berada dalam lingkungan dimana orang lain tidak menjadi prioritas dalam kebutuhan saya, maka saat itu pula saya merasa diri saya adalah orang yang paling bisa berkarya sesuai dengan kemampuan, minat dan bakat saya. Melalui sekian banyak manusia yang ada di bumi ini mungkin hanya 1-2 orang saja yang kagum dengan apa yang saya lakukan, dan itu membuat saya senang, walaupun apa yang saya lakukan adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang lain dan membuat 1-2 orang tersebut kagum, ingin berkenalan, dan merasa membutuhkan pertolongan dengan apa yang saya lakukan karena mereka tersesat di bidang yang kebetulan kemampuan saya.
Disaat saya berfikir akan apa yang saya lakukan itu bisa saya kerjakan sendiri, saya akan berangkat dengan membawa bekal (apapun bentuknya), yang pasti saya tidak membawa perbekalan yang sifatnya nanti akan membuat saya susah. Dalam persiapan dimana saya akan melakukan keinginan saya, saya sadar dan faham akan apa yang saya bawa, diantaranya tas, tempat minum berserta air yang berkapasitas 1,5 liter, beberapa potong roti, pisau lipat favorit tapi karena fikiran saya sedang merasa sudah jauh ditempat yang akan saya datangi, maka pisau lipat favorit kebanggaan saya lupa ditempatkan dimana maka saya bawa pisau lipat cadangan saya.
Selain itu saya membawa perlengkapan topi, tali temali, walkman, dan perlengkapan elektronik lainnya (kecuali HP), baju, celana pendek, sepatu running dan semua satu stel yang langsung dipakai di badan. Walaupun saya membawa bekal secukupnya tapi dalam transportasi saya membawa 1 buah mobil double cabin, yang tepat di atasnya (roof rack) ada satu buah maountain bike.
Saya pun bergegas berangkat yang sedikit demi sedikit pergi meninggalkan rumah, padahal sebelum saya menutup pintu rumah terdengar ada telepon masuk yang meninggalkan pesan. Saya melaju terus tanpa batas mencari dimana akan ditumpahkan segala kemampuan saya sendiri. Hingga malam menjelang akhirnya tiba saatnya saya untuk beristirahat di tempat perkumpulan orang yang menurut saya melakukan hal serupa dengan saya. Dengan mata terkantuk-kantuk saya pun langsung keluar dari mobil dan pindah di cabin tengah untuk tidur dengan berselimutkan sarung.
Pagi menjelang dimana saya harus bangun dan menurunkan mountain bike yang berada di atas cap mobil saya, dengan perlengkapan yang saya bawa, saya langsung melaju dengan sepeda menuju tempat dimana saya akan melakukan aktifitas kemampuan yang saya miliki. Berangkat sambil mengayuh terus sepeda saya, dan ditemani dengan musik favorit melalui walkman dan topi agar tidak panas dan menyerap keringat, melewati gundukan pasir, batu dan apapun yang melewatinya.
Setibanya dekat dengan tempat yang saya inginkan, saya pun meninggalkan sepeda saya dengan tidak lupa untuk mengunci sepeda saya di pohon sekitar tempat itu. Saya pun berjalan melewati lembah, bukit, dan hutan dan terkadang berlari dengan penuh semangat, saya tidak galau, resah, dan gelisah saat saya harus sendiri mengatasi semua permasalahan yang nanti akan muncul. Dengan ditemani lagu rock dengan sengatan matahari yang mulai terasa di leher yang berair hingga dalam perjalanan saya bertemu 2 orang wanita sedang tersesat mencari tempat yang mereka kehendaki.
Kami pun bercakap dan saling bertanya dengan pertanyaan yang biasa ditanyakan sewaktu anda betemu orang yang tersesat, dan mereka pun bertanya dengan saya dengan pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh orang yang baru bertemu dan tersesat. Saya hanya menjawab dengan jawaban yang saya anggap saya menguasai tempat wilayah ini sehingga saya akan antar mereka ke tempat tujuan mereka. Akan tetapi mereka pun membatalkan tempat tujuan mereka semula, karena mereka berdua sepertinya lebih tertarik untuk berkunjung ke tempat yang mereka belum pernah kunji di daerah ini.
Dengan senang hati saya menunjukan tempat itu, saya membawa mereka ke tempat dimana orang jarang sekali melakukan hal bodoh tersebut selain saya. Dicelah yang hanya masuk sebadan orang dewasa normal itu saya, mereka masuk dengan hanya berpijak pada kaki, tangan, dan punggung tanpa alat pengaman. Setelah semua masuk lalu saya melepaskan pijakan tersebut dan membiarkan saya jatuh menuju arah gravitasi bumi sambil berteriak, Sontak kedua teman saya tadi kaget bukan kepalang melihat saya jatuh diantara dua dinding tersebut yang entah kedalamannya berapa meter, karena jika melihat kebawah dari atas sangat gelap sekali.
Saya pun jatuh hingga akhirnya masuk ke dalam air dingin yang biru, sewaktu muncul kembali saya berteriak kepada mereka berdua apabila mereka mengikuti langkah saya tadi, mereka akan sangat merasa luar biasa berada di bawah sini. Mungkin dengan berteriak seperti itu saya bisa meyakinkan mereka jika di bawah sini sangat indah, dengan itu mereka berdua berfikir apakah benar apa yang dilakukan oleh saya itu akan aman dilakukan oleh mereka. Akhirnya mereka satu persatu mengikuti saya untuk melepaskan tangan, punggung dan kaki mereka sambil menjerit dan msauk kedalam dinginnya air.
Sewaktu muncul ke permukaan mereka tidak percaya jika hal yang mereka lakukan itu sungguh-sungguh terjadi dan mereka sangat ingin mengulang kembali apa yang telah mereka lakukan hingga berkali-kali, kami pun melepas pakaian kami untuk naik kembali ke atas dan melakukan hal serupa, tidak lupa kami mengabadikan momen ini menggunakan camera vidio yang saya punya sambil bergantian.
Hingga kami terpuaskan, akhirnya kami keluar dari celah oasis itu dan berjalan menuju tempat datangnya sinar matahari siang. Dengan rasa kekraban yang kami bangun kami pun terpaksa harus berpisah, karena saya ternyata harus melanjutkan perjalanan saya ke tempat tujuan. Kedua wanita tersebut bersalaman dengan sayadan saya pun meninggalkan mereka perlahan seraya terdengar sayup-sayup beberapa kalimat yang terlontar dari mulut mereka sepertinya salah satu dari mereka menyukai saya.
Dalam perjalanan saya pun terus berjalan dan berlari, sambil mendengar lagu rock kesukaan saya sambil sedikit mengikuti lantunan lyrik lagu tersebut, melewati bukit, lembah dan celah bebatuan sambil merasakan dengan indra angin,udara dan tekstur bebatuan dengan menggunakan kedua telapak tangan saya seakan ini adalah kekuasaanku, aku pun akhirnya melewati batu dan turun ke dalam celah yang lebih dalam lagi seperti jalur bekas air hujan yang mengalir.
Sewaktu saya menginjak batu besar itu sebelumnya saya yakin bahwa batu tersebut kuat untuk saya pijaki sebelum saya turun ke celah terdalam pada cadas tersebut, saya pun turun dengan tangan mencengkram batu yang pada akhirnya saya bersama batu tersebut jatuh bersamaan karena batu tersebut ternyata tidak kokoh untuk tempat saya menggantung. Saya pun terjatuh kurang lebih sedalam 5 meter dari tempat saya berpijak terakhir.
Hingga akhirnya saya pun berteriak kesakitan karena ternyata tangan kanan saya terhimpit batu besar diantara dinding celah tersebut. Disinilah awal mula saya merasakan bahwa we can’t do everything without U…lanjut cerita tapi masih dengan kesanggupan saya, akhirnya saya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan batu yang menghimpit tangan saya tersebut dengan kedua bahu, tangan kiri, hingga paha kedua kaki saya, batu pun tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Siang pun berlalu seraya saya melihat ke atas hanya burung elang hitam yang terbang melintasi celah bebatuan tersebut seakan-akan pulang ke sarangnya dan bertemu dengan keluarganya.
Saya pun melepaskan segala perlengkapan saya yang masih menempel di badan satu persatu agar mengurangi beban letih saya ; topi, jam, tas, walkman, dan lain-lain dengan menggunakan tangan kiri saya, saya mencari pisau lipat yang saya bawa, bermaksud ingin mencoba memahat batu yang menghimpit tangan saya ini. Setelah ketemu saya mencoba terus memahat batu tersebut, hingga
tengah malam tiba, setelah melihat jam tidak terasa ternyata sudah pukul 2.45 pagi. Saya baru sadar ternyata saya belum minum setetes air pun, sontak tangan kiri saya langsung mengambil tempat minum yang didalam nya masih tersisa air kurang lebih 1 liter lagi, saya reguk sedikit air tersebut agar tidak cepat habis. Saya pun beristirahat sejenak dengan tidur sambil berdiri……
Hingga pagi menjelang dan saya kaget dan terbangun hingga terlihat di antara celah bebatuan yang menghimpit tangan dan tubuh ini, perlahan lahan cahaya mentari masuk di antaranya. Tanpa terasa kaki menahan semalaman berat tubuh ini hingga semua darah dalam tubuh ini menuju ke kaki dan dingin seperti es, dan perlahan sinarnya pun mendekati kaki ini dan berhenti sekitar jarak 50 cm lalu saya julurkan salah satu kaki saya ke sinar tersebut dan bermaksud untuk mendapatkan panasnya hingga kaki ini tidak beku. Dan saya pun merasakan kaki pucat saya disinari mentari pagi yang sarat akan vitamin.
Saya pun meminum air di dalam tempat minum plastik warna biru lagi hingga berkurang 5 mili, saya pun mengulangi pekerjaan saya untuk melepaskan himpitan batu tersebut, saya berusaha untuk memecahkan sedikit demi sedikit batu itu dengan pisau saya, dan bukanya bongkahan-bingkahan besar yang saya dapat akan tetapi hanya debu yang saya hasilkan oleh pisau ini, dan ujung pisau yan ghancur sedikit-demi sedikit. Lalu saya kembali berdialog dengan handycam saya dan berkata “jangan sekali-kali anda menggunakan produk china..!!”
Siang menjelang mata pun mulai tidak kuat karena menahan lapar yang terangat sangat, saya kembali minum air dalam botol saya 5 mili lagi, saya coba mencari sisa roti yang saya bawa dan memakanya sedikit. saya pun terus bekerja mengikis batu tersebut sambil bernyanyi mendendangkan beberapa lagu rock kesukaan saya, hingga tisak terasa waktu pun berlangsung sore hari dan saya selalu melihat ke atas burung elang yang selalu melintasi celah diatas kepala saya jika akan pulang menuju keluarganya. Hingga malam menjelang dan gelap. Saya coba memasang headlamp yang saya bawa danterus bekerja memehat batu keras itu hingga tengah malam saya pun dihinggapi rasa kesal dan menganggap semua ini bohong, dan saya masih bersikeras semua ini akan saya tangani dan saya pasti akan bisa keluar dari situasi ini.
Dalam kekesalan tersebut akhirnya saya kecapaian dan tertidur, di dalam tidur saya bermimpi melihat sofa warna coklat muda yang sangat nyaman dan perlahan datanglah satu demi satu keluarga tercinta saya hingga orang yang telah meniggalkan saya dan mereka semua duduk dengan manis di sofa tersebut. Sontak saya terbangun dalam tidur tersebut dan melihat di sekitar saya ternyata masih dinding berbatu, hingga tidak terasa saya kembali meminum air di dalam botol saya 2 teguk. Setelah meminumnya saya pun merasakan dan mendengar di belakang saya seperti ada anjing di dalam film-film kartun yang sedang menertawakan saya. Saya pun kaget dan mencari anjing itu hingga ahirnya saya sadari saya baru saja berhalusinasi.
Hingga pagi menjelang sudah hari ke tiga saya bertahan, saya selalu mengerjakan aktifitas rutin sebagaimana di hari-hari sebelumnya saya beraktifitas. Siang pun menjelang dan kondisi tubuh ini sudah mulai menurun, karena roti yang saya bawa akhirnya habis saya hanya bisa membayangkan saya sedang makan dan minum di sebuah restoran termahal di dunia dan di layani oleh pelayan profesional. Anjing kartun halusinasi saya pun muncul dalam pikiran saya beberapa kali dan hampir seperti wujud asli, dia pun berpindah-pindah tempat sesuka dia di dalam celah itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Saya pun mereguk air yang hanya tinggal tersisa 5 mili lagi, saya mencoba membuat tempat yang nyaman untuk saya tidur di malam hari dengan mencoba membuat tempat tidur dengan menggunakan tali panjat dengan keahlian yang saya miliki. Akhirnya tali itu pun membentuk sebuah tempat tidur gantung. Hingga malam menjelang saya pun kembali bernyanyi dan mencoba berbicara kembali dengan handycam saya, hanya mengatakan saya pun ternyata masih bisa nyaman di dalam kesulitan saya dan dengan kemampuan ini saya masih kuat untuk bisa bertahan hidup.
Biasa setiap malam tiba dan setelah saya bekerja seharian untuk membongkar batu keras itu, saya pun terlelap dalam tidur ini dan mimpi-mimpi selalu menemani saya kembali ke dalam pelukan keluarga saya sewaktu saya masih kecil dan duduk di sofa coklat muda di temani oleh ayah dan ibu, seakan dekapan mereka adalah dekapan ternyama. Hingga dua orang wanita yang saya temui di dalam perjalanan saya 4 hari yang lalu datang dan mencium kening saya di kolam renang, saya pun terlena dengan segala nikmat di dalam mimpi saya, tanpa terasa pagi pun menjelang hingga saya melihat ternyata celana saya basah dan dipenuhi cairan ‘bening’.
Saya melakukan buang air besar dan kecil pun di tempat tersebut, jadi saya coba untuk melihat diri saya ternyata mulai sadar saya seperti anak kecil yang tidak terurus. Hari ke lima saya coba untuk berfikir dengan ide gila saya apabila saya potong saja tangan saya dan saya akan terbebas dari kesengsaraan ini, tapi itu pun saya tidak berani. Saya pun berfikir kembali jika saya lolos dari masalah ini saya akan membunuh anjing halusinasi saya, saya akan tidur seharian di sofa coklat muda itu dan saya berfikir hal-hal yang membuat saya puas untuk membalas semua penderitaan yang saya alami saat ini.
Air terakhir ternyata sudah habis, tidak ada makanan, tidak ada teman, hanya tikus dan serangga gurun yang lewat di dalam celah itu, siang menjelang halusinasi itu makin menjadi, karena saya coba melawan rasa lapar dan haus sewaktu mentari di atas kepala. Akhirnya ide tidak masuk akal saya pun muncul untuk membendung air seni saya di dalam botol minuman saya, lalu saya tempatkan botol air tersebut di bawah tubuh saya dan saya beri sedotan panjang menuju ke mulut saya. Tidak berfikir panjang lagi, saya pun akhirnya meminum air seni saya dengan rasa yang begitu menyakitkan. Saya selalu merekam kondisi di mana saya tidak bisa berfikir panjang untuk berbuat sesuatu.
Besok harinya yaitu hari ke enam saya akhirnya memutuskan untuk berhenti berusaha, saya pasrah dengan kondisi, saya sudah perkirakan akan mati di tempat sempit ini, saya pun tidak melakukan apa-apa pada hari ke enam ini, dan saya berfikir akan sangat percuma saya keluarkan energi berlebih untuk hal yang tidak mungkin saya lakukan. Berdiam dari pagi hingga menjelang sore, saya akhirnya meneteskan air mata, saya berteriak sekuat tenaga, dan saya merasa diri ini bodoh tidak bisa melakukan hal yang mungkin selalu di lakukan oleh saya. Akhirnya badai hujan pun datang awan menjelang sore tiba-tiba berubah menjadi gelap hingga turun setetes demi setetas air hujan, perlahan membesar dan akhirnya hujan lebat pada malam itu.
Tubuh ini perlahan basah kuyup dan tanpa terasa karena sifat air mencari tempat terendah, sejumlah debit air yang cukup besar pun mengisi celah-celah bukit berbatu tersebut, tanpa terkecuali celah dimana saya terjebak. Paniknya kondisi tersebut saya hanya bisa memasukan peralatan saya semula kedalam tas anti air saya. Hingga akhirnya air pun perlahan menenggelamkan kaki, paha, perut, dada, leher dan kepala saya. Saya pun tenggelam di dalam penuhnya celah bukit itu oleh air hujan, dengan mangambil sisa nafas (oksigen) sewaktu air di sebelum menenggelamkan tubuh ini saya pun mencoba bertahan dan akhirnya saya berfikir saya akan mati saat ini, saya akan mati tanpa ada orang yang tahu. Hingga akhirnya gelap gulita saya rasakan, saya rasa saya sudah mati…………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Cahaya mentari mulai menyinari wajah saya perlahan di pagi hari, dan saya pun terbangun dari kondisi tidak tersadarkan diri, saya rasa saya sudah di surga atau neraka sekarang. Akan tetapi saya coba untuk mencubit bagian tubuh saya, dan ternyata saya masih merasakan sakit dan itu menandakan saya masih di beri hidup, saya pun berteriak kembali dan berkata “saya masih hidup, terimakasih Tuhan”, dengan itu saya pun menangis, dan bersimpuh serta berdoa. Saya bukan siapa-siapa tanpa Tuhan, semua yang saya miliki dan saya ahli kan ternyata belum seberapa di bandingkan dengan kebesaranNYA.
Akhirnya saya memulai untuk berfikir positif kembali, saya pun mencoba memutuskan dengan kekuatan yang ada untuk mencoba kembali lagi berjuang, karena saya yakin Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk berbuat yang lebih baik, karena Tuhan selalu mencintai manusia yang selalu bersyukur dan berusaha. Akhirnya saya pun mencoba keluar dari situasi ini, dimana saya bertekad tidak akan mengulangi segala pekerjaan bodoh saya kemarin, tapi saya mencoba bercermin dengan kebodohan itu dan ternyata saya merasa masih mempunyai kekuatan untuk hidup kembali.
Saya pun memutuskan untuk mengikhlaskan apa yang saya miliki dan sayangi dari saya sewaktu dilahirkan dengan kehidupan saya ke depan, itu adalah harga yang harus saya bayar atas kesalahan saya hingga saat kemarin. Saya pun akhirnya memotong tangan saya dengan pisau buatan china tersebut, dengan sebelumya saya bendung dulu tangan saya dengan tali bermaksud agar tidak banyak darah yang keluar. Perlahan demi perlahan kulit, lemak, otot, daging, nadi, hingga tulang putih saya digergaji dengan menggunakan punggung pisau china itu karena bergerigi. Setelah tulang putih saya terpotong, kebali lagi persyaratan tingkat pemotongan tangan saya pun terpenuhi.
Saya pun akhirnya terlepas dari penderitaan ini, saya bungkus tangan buntung yang masih berdarah segar dengan baju saya, saya pun dengan sakitnya langsung bergegas dan membawa tas langsung pergi meninggalkan celah neraka tersebut. Berlari terus mencari pertolongan, hingga akhirnya saya bertemu dengan sebuah keluarga yang sedang tersesat dan akhirnya meminta bantuan kepada mereka, dan mereka pun langsung mencoba menghubungi tim pertolongan yang ada dan dekat di tempat itu. Tidak lama kemudian pesawat heli pun datang danpara petugas langsung mengangkat tubuh lemas saya kedalam pesawat.
Saya hanya bisa menangis sewaktu Tuhan memberikan pertolongan berlebih kepada saya…ini adalah pelajaran bagi saya, dan saya akan mencoba membaginya kepada semua orang di sekitar saya nanti. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu saya pun akhirnya masih mencoba melakukan hal-hal ekstreem itu, dan saya yakin dengan tindakan Tuhan memberikan teguran kepada saya, bukan berarti Tuhan memberikan perintah untuk berhenti berkarya di bidang itu, akan tetapi hanya memberikan peringatan bahwa kita adalah manusia yang berjalan di atas bumi, dimana langit di junjung tidak lebih.
Fenomena mencari sesuap RICH
Senin, 14 Maret 2011
Hari ini pukul 5.00 subuh saya berangkat menuju dua buah kota, dimana kota-kota tersebut merupakan wilayah cakupan market perolehan calon mahasiswa yang nantinya akan menjadi mahasiswa sebuah sekolah tinggi kesehatan. Dalam perjalanan menuju kota ini saya bersama-sama dengan rekan kerja yang berinisial D, B, D/N, yang sebelumnya saya sebagai ketua rombongan wilayah merasa kecewa karena salah satu dari rekan saya (D) telat datang yang mengakibatkan keterlambatan hingga 1 jam dari waktu yang telah disepakati. Hingga akhirnya kami pun berangkat…dalam perjalanan karena kami ber-empat belum sarapan akhirnya kami mencari makanan di sepanjang jalan menuju kota yang kami jajaki. Pada akhirnya kami sepakat untuk membeli bubur ayam, karena cocok untuk mengisi kekosongan perut di pagi hari.
sebelum menemukan tempat yang tepat untuk makan bubur kami mendapati kemacetan di pagi hari, dan kami berfikir jika kemacetan itu ditimbulkan karena pasar, sekolah atau terminal bis yang pasti menjadi sumber kemacetan utama. Setelah kendaraan yang kami tumpangi melewati sumber kemacetan tersebut, ternyata saya melihat ada taburan tanah ditengah jalan…dan setelah melewati kerumuan orang saya pun melihat sebuah motor matic warna biru putih dengan bagian depan hancur dipinggir jalan…mhh saya berfikir sebuah pagi yang mengenaskan bagi pengendara motor tersebut.
akhirnya tidak jauh dari tempat kejadian perkara tersebut tepatnya disamping pom bensin ada gerobak bubur ayam yang terlihat mengoda mata hingga air liur ini keluar secara otomatis dari sumbernya. Setelah menepikan langsung kendaraan saya dan ketiga rekan saya langsung menghampiri tukang bubur ayam tersebut dan memesannya. Pada waktu makan bubur ayam panas dan menggoda itu, ketiga rekan saya dan termasuk saya tidak ada satu orang pun yang hendak menanyakan kejadian kecelakaan sesungguhnya itu bagaimana, dan hati saya berkata dan berdoa semoga tidak ada satu orang pun membicarakan hal tersebut sewaktu kami melahap bubur panas nan enak tersebut, kiranya apabila hal tersebut hingga tercetus.. saya akan muntah dan mungkin hilang selera makan.
Hingga pada suapan terakhir dan minum teh pahit panas…rasanya lega, tapi setelah berselang 5 menit akhirnya salah satu rekan saya pun bertanya kepada tukang bubur ayam tersebut “mang gimana kejadian kecelakaan tersebut?” lalu si bapak penjual bubur tesebut menjawab “Saurna aya budak sakola boncengan, pas nyiap truk, ti arah berlawanan aya mobil langsung mepet ka payuneun truk labuh we…” lanjut salah satu rekan teman yang lain berkata “maot teu pak jalmina?” si bapak menjawab “saurna ceunah sirahna ge jadi bubuk…”dari pembicaraan tersebut langsung bergegas saya lari ke toilet yang ada di pom bensin tersebut.
Setelah dari kamar mandi, kami pun bergegas meninggalkan lokasi tukang bubur. Sesampainya dikota tujuan kami, kami langsung mendatangi beberapa sekolah SMK swasta dan negeri yang terdapat didaerah tersebut, kami melakukan promosi melalui pemasangan baligo, penyerahan brosur hingga pemasangan spanduk. Terlepas dari itu semua kami pun melakukan pendekatanpersonal kepada guru, staff, ketua yayasan, kepala sekolah, dan bimbingan konseling di sekolah masing-masing yang kami kunjungi. pada saat kebanyakan sekolah yang kami kunjungi adalah sekolah swasta tanpa disadari sekolah negeri terlewati, lalu kami berempat berinisiatif untuk mencari sekolah negeri yang ada di kota tersebut. Setelah berjalan sekitar 1 kilometer kami pun menemui sekolah negeri pertama yang ada di kota tersebut, sekolahnya bagus, siswanya banyak, lengkap dengan satuan pengaman, dan pada waktu kami kesana suasana akademiknya baik.
Saat kami meminta ijin kepada satpam ternyata Satpam pun dengan ramahnya walaupun dengan nada membentak, menunjukan letak ruangan guru BK (bimbingan konseling). Kami pun berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh satpam, lalu kami pun bertemu dengan bapak berseragam PNS, dan kami pun bertanya “selamat siang pak, kami dari STIKes budi luhur cimahi ingin mengadakan promo, apakah kami dapat bertemu guru BK…?”, lalu bapak itu menjawab “ooo baik pak silahkan tunggu dulu , saya panggilkan orangnya…!”, dengan senang hati kami pun menunggu, dan tidak berselang lama ada sosok bapak-bapak gemuk, seperti keturunan arab datang ke arah kami duduk dan berkata ” mau promo ya?…” kami pun tersenyum dan menjawab” iya pak…” bapak itu pun menjawab” mari.mari kesini kebetulan saya guru BK nya..”sambil membuka pintu ruangan BK yang terkunci.
setelah kami dipersilahkan duduk kami pun memberitahukan maksud dan tujuan, serta menjelaskan sedikit tentang institusi dan program-program yang kami akan suguhkan buat calon mahasiswa kami. Pada pertengahan penjelasan yang pada waktu itu saya sedang bicara lalu bapak tersebut memotong dengan bicara” sekarangmah gini aja, langsung pada point nya ya pak…bapak mau memberikan keuntungan berapa ke saya?karena bukan apa-apa ya ini kan bisnis ya, jadi saya harus tau dulu berapa uang yang bapak ingin kasih ke saya, karena ini kan secara tidak langsung bapak menyuruh saya untuk masuk ke kelas-kelas dan itu tidak ada yang gratisss…!!!” saya dan rekan saya pun terperanjat sekejap, dan akhirnya saya menjawab” oooo tenang pak itu pasti kami pikirkan…”lalu saya menyuruh rekan saya untuk menjelaskan vie yang akan didapat apabila memberikan rekomendasi, dan rekan saya pun menjawab” untuk jurusan s1 dan d3 keperawatan kami akan menawarkan Rp. 200.000,- /orang, dan untuk d3 kebidanan Rp. 150.000/orang…”sebelum teman saya melanjutkan pembicaraanya, langsung si bapak tersebut menjawab” nih pak saya kasih tau ya…bapak itu menyuruh saya untuk promo, datang ke kelas-kelas untuk membujuk siswa agar sekolah di tempat anda ini…bayangin saya hanya dikasih uang segitu?!!!udah tidak jaman atuh pak!…saya kerja jadi guru BK itu tunjangan dan gajinya hanya sedikit! jadi saya itu gedenya dari bisnis ini pak!!” saya dan rekan saya kaget luar biasa, karena baru kali ini saya promo dihadapkan dengan fenomena ini.
Saya dan rekan saya pun berusaha dan dengan menahan emosi yang luar biasa kepada ucapan bapak tersebut. Lalu si bapak tersebut bicara dengan nada seperti waria “nih saya kasih tau kalau sekolah lain itu minimal Rp. 1000.000,-/kepala ngasih kepada saya bersih…, belum lagi uang pendaftaran itu dikasihkan kepada saya semua.., ini apa hanya Rp. 200.000,-gak ada artinya pak dibandingkan dengan perolehan mahasiswa…sekolah kami ini sekolah internasional dan terbaik dikota ini, jadi saya jamin kualitas juga terjamin…” saya dan rekan saya pun kaget bukan kepalang karena apakah permainan dalam perolehan calon mahasiswa itu seudah ada mafia juga??saya berusaha menjelaskan kepada bapak tersebut” pak kami terus terang kaget mendengar ada sekolah yang dalam kegiatan promosinya memberikan dana yang besar pada program PMB nya…hebat!!”lalu si bapak itu memotang lagi”tuch kan makannya bilang sama atasan bapak kalau diluaran itu sudah seperti ini…males ah saya mah”seraya sambil melempar brosur dan surat rekomendasi kami, di meja yang sudah bertumpuk brosur yang saya nilai ini brosur-brosur yang ditolak karena mungkin hanya memberikan vie sedikit, atau malahan tidak sama sekali kepada bapak tersebut.
Karena kekesalan yang memuncak seakan tidak dihargai…kami pun ingin rasanya bergegas meninggalkan bapak gendut, tua, hitam yang tidak tau diri itu…dan akhirnya dengan rasa dongkol kami pun pamit dengan baik-baik”baik pak saya dan rekan saya ingin berpamitan, terimakasih untuk waktu dan kesempatannya…mudah-mudahan kerjasama kita saling bermanfaat ya pak..”lalu dengan nada sedikit marah, sibapak menjawab”iya sama-sama, tapi satu hal yang anda harus tahu, saya tidak akan mempromosikan institusi bapak kecuali vie nya dinaikan…, tapi ya jika ada siswa sini yang tertarik langsung, ya itu rezeki bapak?!saya menjawab”ya…mangga silahkan, itu kan hak sekolah…, yang penting kami sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya…mangga pak terimakasih”saya dan rekan saya pun langsung minta ijin untuk pulang dan memasang banner di mading, lalu kami pun bersalaman.
Akan tetapi ada kejadian yang sangat-sangat membuat rasanya ingin muntah, si bapak berbicara kembali”ini gak ada sovenir apa-apa untuk saya?masa atuh souvenir juga gak punya???”sambil melihat baju promo PMB kami yang terlihat keren…dia berbicara kembali”itu aja atuh lepas bajunya salah satu…!!”lalu saya menjawab hampir kesal”maaf pak bukannya kami menolak, tapi kan saya dan rekan saya tidak menggunakan baju dalam lagi!!?dan ini baju buat promo satu-satunya pak!!”kalau tidak ingat sedang promo saya sudah marah dan mungkin adu fisik dengan bapak setengah gila itu…
kami pun bergegas meninggalkan ruangan dan langsung memasang banner di mading yang terletak tepat didepan ruangan guru BK sableng itu..sewaktu kami pasang selang waktu 3 menit si guru BK itu memanggil kami kembali, karena saya terlanjur kesal bukan kepalang, saya suruh rekan saya saja yang menemuinya.
Entah apa yang diingininya kembali, sesudah beres memesang banner saya langsung pergi dari area itu sambil berjalan pelan dengan niat menunggu rekan saya yang dipanggil tersebut. Lalu setelah berjalan bersama saya bertanya kepada rekan saya itu”ada apa tadi si bapak sableng itu memanggil…?!lalu rekan saya menjawab” pak kekeuh si bapak mau suruh saya membuka baju saya…dan memberikannya sebaga kenang-kenangan…!!?.saya pun tambah kesel serasa tidak dihargai sebagai manusia dan dijalan saya marah sambil bergegas dan berbicara”hayooo cepat kita menyingkir dari tempat orang sakit jiwa ini…, saya kapok dan tidak mau lagi kembali ketempat ini”
Lalu kami munuju kendaraan kami, yang disana sudah ada dua rekan kami menunggu sambil akan berniat pasang spanduk di sekolah tersebut, lalu saya dan rekan saya berbicara” sudah kita langsung cepat pergi dari sekolah ini, n**is, dasar sin**ng, dasar ben**ng, anj**ng, kep**at…”rekan saya yang tidak tahu persoalannya bertanya”lha kenapa bos, kunaon kitu(kenapa gitu), ada apa??”saya menjawab “ayo cepat nanti saja saya jelaskan….!!!”
Fiuuuhh…para pembaca maaf ya mungkin tidak sepantasnya tulisan ini saya tulis, tapi saya dengan adanya blog ini setidaknya saya, rekan saya, dan semua yang ingin promo ke sekolah khususnya sekolah negeri, mohon kiranya harus sudah siap dengan hal semacam ini. walau tidak semua sekolah negeri seperti ini, tapi saya yakin dan berharap hanya sedikit sekolah yang mempunyai guru seperti bapak tadi, karena tidak menutup kemungkinan secara tidak langsung guru tadi sudah membuat jelek citra buruk sekolah negeri.
semoga bermanfaat, setidaknya hati dan pikiran kami yang terkoyak semua sudah tercurah didalam tulisan ini, thanks God and wordpress without you this resentment would still be there and poison our hearts and minds
Berbagi pengalaman dan Tips membuat nama untuk anak
17 November 2009, melalui rahim seorang perempuan bernama hardini dengan operasi caessar seorang bayi perempuan diturunkan dari kehendak sang Penguasa Alam Semesta, dengan proses kelahiran di pandu dengan bacaan surat Ar Rahman yang keluar perlahan dari mulut seorang laki-laki bernama aku…sontak tepat diakhir bacaan pada pukul 07 lebih 20 menit, terdengar suara tangisan bayi sayup-sayup perlahan dan terbukalah pintu ruang operasi serta akhirnya suara itu melengking keras terdengar dan terlihat 2 orang suster sedang membawa Box Inkubator bayi, saat itu juga seakan aku baru percaya Allah adalah Dzat paling Hebat di seluruh alam semesta ini, serta pada waktu itu pun juga air mata yang pada biasanya kutahan untuk menangisi hal-hal duniawi, pada akhirnya menetes. Ini berarti Allah telah memberikan ujian kepada umatNya melalui seorang anak, agar hambaNya akan selalu ingat dan bertakwa kepadaNya karena tetap hanya Dia satu-satunya Dzat yang tidak bisa di duakan.
Selang waktu berjalan kami berdua akhirnya merencanakan sebuah nama yang kami fikir itu hal mudah, sebenarnya jauh sebelum kelahiran kami berdua sudah merencakan nama yang kami anggap itu adalah yang paling baik dari yang terbaik berdasarkan hasil mencari referensi dari buku-buku, internet, orang pinter dan lain sebagainya, dan kami berdua bersepakat untuk memberi nama Dhiajeng Awandini Khaulatunisa hingga pada akhirnya sehabis lahir selang waktu 12 hari kami melakukan ritual orang jawa karena kebetulan kami dari jawa yaitu membuat bubur merah dan bubur putih dan pada hari ke 13 nya kami melakukan Aqiqah yang sebagai syarat agama islam untuk mensedekahkan rizki kepada orang lain, dan juga sebagai tanda sudah disyahkan dan diselamatkan anak kami beserta namanya.
Tapi setelah acara itu ternyata kami masih mendapatkan beberapa kritikan dan saran yang terus muncul dari keluarga, sahabat, handai taulan dan lain sebagainya tapi kami pun tidak membatasi masukan atau usulan nama-nama yang terbaik menurut mereka, karena kami faham mereka mempunyai tujuan baik agar anak kami akan selalu dalam kemuliaan. Tapi ternyata waktu terus berjalan dan akhirnya hingga usia anak kami tanpa disadari sudah 54 hari atau 2 bulan kurang 1 minggu, hati kami pun akhirnya dibimbangi karena hampir mayoritas tidak setuju dengan nama yang telah ada karena menurut orang jawa nama Dhiajeng itu berarti nama panggilan sepantasnya buat adiknya, dan tidak boleh untuk nama anak pertama. Mereka khawatir nantinya kami tidak dikaruniai anak lagi….Allahualam…
Akhirnya kami berdua bersepakat untuk menerima beberapa saran dari orang tua, kakak, adik, dan handai taulan hanya untuk dijadikan reverensi dalam membentuk rangkaian nama-nama terbaik dan bukan untuk diyakini, karena kami selalu berpegang teguh bahwa apalah arti sebuah nama, manusia terlahir tidak lebih sebagai sehelai kertas putih yang akan digoreskan tinta oleh orang tuanya. Dalam arti kata prilaku manusia itu dibentuk berdasarkan apa yang ada di dekatnya dan pada lingkungannya. Tidak sedikit manusia mempunyai nama baik akan tetapi prilakunya buruk dan atau sebaliknya. Akan tetapi nama adalah gambaran doa-doa, agar si anak yang diberikan nama tersebut bisa berprilaku yang sesuai dengan nama baiknya.
Revanjani Mehrunisa Awandini
Reva adalah berasal dari sebutan karakteristik yang berarti Rajin, Pekerja keras, Menyukai Perubahan dan Variasi Intuitif dan penuh Inspirasi selain dari pada itu juga sebagai Kemandirian dan Kritis terhadap Diri Sendiri dan Orang Lain.
Reva adalah berasal dari bahasa polinesia yang juga berarti Bendera Merah (melambangkan semangat membara)
Reva adalah berasal dari bahasa Indonesia yang berarti Kebijaksanaan, Penciptaan dan Kegaiban atau juga berarti Kecantikan dan Kekuatan
Reva adalah berasal dari bahasa latin yaitu yang Mampu untuk Bertahan
Revan adalah berasal dari bahasa Rusia sebagai sesuatu yang kuat dan keras (batu)
Jani/Janie berasal dari bahasa Amerika (US) yang berarti Tuhan yang Maha Pengasih (arab : Ar Rahman)
Jani adalah berasal dari bahasa Indonesia yang juga Tetesan Air
Mehru adalah berasal dari bahasa Islami/Arab yang berarti Cantik
Nisa adalah berasal dari bahasa Islami/Arab yang berarti Seorang Perempuan
Awan berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti Baik
Dini berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti Mulia
Artikulasi nama diatas dapat diartikan dan dipadukan menjadi sebagai berikut :
Perempuan Bijaksana (kuat laksana tetesan air dan batu) yang Cantik, Baik serta Mulia

