karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

Terbaru

Revolusi Ibadah

revolutionSejak pertama ideologi ini diperkenalkan kepada kami melalui tangan Tuhan melalui utusan yang berlapis, hingga akhirnya sampai pada kakek, nenek hingga orang yang melahirkan saya dan sekarang baru menitis pada putri buah cinta saya dan istri tercinta, sejak itu pula saya merasakan apa itu revolusi, reformasi, demokrasi, hingga liberalisasi dan kapitalisasi ideologi. Ideologi yang sejatinya adalah hak kebebasan memilih apa yang menjadi pilihan hati, akan menjadi petak-petak kebebasan yang terus dialiri rasisme kelompok melalui pematang-pematang keyakinan yang sudah jelas adanya.

Rasisme kelompok yang sudah terbentuk dan terbentur oleh dinding-dinding atau sekat-sekat sejarah dan keilmuan membentuk pribadi-pribadi yang berbeda dan siap untuk mendukung, memperjuangkan, hingga menebar keyakinan sebagai solutive finishing dalam permasalahan hidup. Hingga saya tidak mungkin tidak terkena atmosfir rasisme dan masuk dalam salah satu kelompok tersebut. Kewajiban dan hak yang saya dapat pada kelompok ini sudah menjadi syariat, dan itu terjadi juga pada kelompok lain.

Tulisan ini dibuat karena bentuk rasa ‘melow’ bukan ‘galau’. Tuhan telah memberikan tahapan atau revolusi juga pada umur seseorang yang harus dinikmati pada setiap tahapannya, dari kecil beban pikiran hanya main, beranjak remaja trendnya pasti ditanya cita-cita oleh semua teman orang tua atau kolega ayah dan ibu, dan jawaban saya pasti sudah pada tahu kan?, dewasa pertama resah akan status diri, idealis, eksistensi, mandiri. Dewasa atas mulai masuk pikiran antara abjektivitas, subjektivitas, positivisme, empiris hingga bermacam ideologi/keyakinan yang bermacam strukturnya.

Kembali ke rasisme kelompok, saat saya sedang menikmati kelompok saya di usia ini dengan semangat dan motivasi tinggi bahkan mengorbankan beberapa acara demi eksistensi dan pengakuan kelompok, saya di hadapkan dengan dinding kelompok lain yang sangat menjulang, sehingga saat akan beribadah misalnya di rumah ibadah yang saya belum pernah kunjungi, saya terlampau memikirkan apakah cara, teknik atau syariat yang saya pelajari di kelompok saya sesuai dengan tempat ibadah yang baru saya gunakan untuk beribadah.

Alhasil, saya harus berfikir logis dengan mendasar pada sumber yang dapat dipercaya yaitu wahyu yang diturunkan secara langsung melalui kitab suci. Besar kemungkinan terjadi distorsi informasi apabila meyakini sesuatu tanpa bukti. Golongan, kelompok dari sebuah ideologi organisasi harus disadari mereka adalah satu aliran kepercayaan dengan yang kita yakini dan membaca atas kitab suci yang sama, Tanpa mengurangi rasa hormat, lebih baik kita tidak saling mengadu ilmu dengan apa yang kita yakini paling benar. Hal ini akan dapat memecahkan persatuan umat, apalagi diboncengi oleh sekte atau kepentingan kekuasaan kelompok di luar aliran ideologi yang kita yakini.

Tahapan selanjutnya apa kiranya…ya?

CERMIN SEJARAH

OLYMPUS DIGITAL CAMERAEntah apa yang sedang terjadi pada atmosfir sosial di masyarakat, pasalnya dalam 3 bulan terakhir terdengar stereotip-stereotip yang mengungkap kebenaran asal usul suatu peristiwa, baik dalam buku, ceramah, diskusi, atau perkuliahan. Asal usul itu di berisikan cerita, anekdot, penuturan, hasil diskusi dan lain-lain yang berujung pada kisah yang dinamakan sejarah.

Sejarah adalah gambaran atau fakta peristiwa masa lalu yang terjadi, mengalir, dan menempel pada sendi-sendi semesta pada zamannya. Pelakunya antara manusia dan mahluk di luar manusia yang lahir pada saat sejarah mengalir tentunya satu-satunya sebagai saksi hidup hingga wafat menjemput, setelahnya dilanjutkan oleh kelahiran mahluk yang baru yang dapat melanjutkan, menambah, mengurangi, mendistorsi, bahkan mereduksi torehan sejarah yang telah dilalui oleh waktu .

Generasi terkini adalah pelanjut atas generasi sebelumnya, demikianlah seiring dengan berjalannya waktu sejarah merupakan cerminan peristiwa yang ditinggalkan dan di kontekstualkan dalam bilah-bilah buku agar ke-objektivitasannya dapat terjaga dengan baik. Proses kontekstualisasi ini tentunya sangat berpengaruh pada faktor-faktor perumus, perancang dan pemikir yang tentunya adalah manusia itu sendiri, baik yang hidup pada saat sejarah itu lahir, berkembang hingga berkelanjutan bahkan sampai saat sejarah itu terkubur. Manusia terkini sekalipun dapat menuliskannya kembali dengan gaya tulisan terbaru, untuk dapat dimengerti pada generasi terkini.

Beberapa orang hebat di dunia ini tentu sepakat untuk menghormati sejarah berdirinya suatu peradaban, dari mulai bangsa yang dilahirkan terpuruk hingga bangsa terkaya sekalipun, dari bangsa yang konservatif hingga bangsa yang modernisasi, dari bangsa yang terjajah hingga saat ini hingga bangsa yang merdeka. Kelahiran ideologi, agama, kepercayaan di dunia ini pun memang tidak terlepas dari sejarah peradaban umat yang terus mengalir dan berkembang. Kelahiran teknologi, komunikasi juga merupakan manifestasi dari berkembangnya sejarah. Kelahiran dunia ilmu kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya, sosial, dan ilmu-ilmu lain bahkan tidak terhindarkan dari apa yang dinamakan sejarah.

Sinergi manusia dengan alam dalam kehidupan ini adalah titik awal dari proses tercetaknya sejarah peradaban, seharusnya mereka semua dapat mencatatkan sejarah, akan tetapi apa daya mahluk lain di luar manusia yang tidak dapat menuliskan deretan sejarah? padahal mereka hidup berdampingan. Manusia dikatakan mahluk yang paling sempurnalah yang akhirnya berkuasa untuk mecatat setiap kejadian atas kebersamaan mereka.

Kehadiran manusia dahulu dan saat ini berhak atas segala catatan sejarah yang ditorehkan dalam tulisannya, termasuk saya. Saya juga berhak menulis atas apa yang saya ketahui, untuk dibaca oleh para pembaca  yang membaca tulisan saya tentunya (sedikit Gede Rasa). Kehebatan manusia dalam merefleksikan kejadian atau peristiwa adalah salah satu bentuk kesempurnaannya, merakit riwayat, melihat lalu setelahnya menghubungkan, membingkai risalah hingga merekayasanya.

Refleksi riwayat-riwayat yang pernah ada dan dituliskan oleh manusia mempunyai tujuan agar generasi penerus dapat belajar, dapat mengetahui, dapat memprediksi atau meramalkan sebagai acuan atau tuntunan dan panduan dalam meniti kehidupan berikutnya, berdasarkan atas informasi yang di bangun. Informasi tersebut tentunya harus berdampak positif bagi generasi berikutnya, agar dapat memperkecil kesalahan atau kekacauan atas *hukum di dunia ini.

Kehebatan manusia dalam mentorehkan riwayat tentulah bergantung pada visi dan misi, faktor psikologis atau juga dimensi sosial/sudut pandang hingga kepentingan individualistik dalam mencatat riwayat tersebut. Penulis/pengarang yang menuliskan atau mencatat riwayat dari asal usul untuk dijadikan sebuah hikayat membutuhkan pemikiran mendalam, agar rekaan dapat disambung dan dipadupandankan berdasarkan puzzle sejarah yang tercerai, apalagi jika terbukti sejarah tersebut terputus oleh dimensi waktu.

Benang merah pembuatan hikayat inilah tentunya yang harus dicermati oleh mereka, karena tidak menutup kemungkinan benang yang seharusnya tersambung dari putusan sejarah akan tidak tersambung, bahkan tidak nyambung. Ketersandungan informasi yang diwariskan dikhawatirkan akan menjadi penyampai atas susunan sejarah yang salah, yang pada akhirnya warisan sejarah yang ditinggalkan generasi sebelumnya akan menjadi ideologi sosial yang tidak dapat tercerminkan dan akhirnya menetap.

Apakah fakta sejarah itu dapat disimpulkan tidak objektif? atau fakta sejarah yang ada adalah rumusan subjektifitas manusia? itu bisa di jawab oleh manusia itu sendiri dalam memahami hikayat kehidupan. Dalam memahami tentulah harus berguru pada ahli atau pakarnya, jangan berdasarkan stereotip-stereotip apa lagi dari manusia yang mempunyai tujuan tertentu yang dapat merusak generasi. Adapun kesalahan yang dapat ditimbulkan oleh pakar tersebut, tidak terlepas dari peran kekurangan manusia yang dapat dipertanggungjawabkan bersama, karena terpilihnya para ahli tersebut hasil dari pergumulan daulat oleh manusia yang berguru kepadanya.

Selayaknya sejarah digunakan seperti halnya “spion kendaraan”, yang dapat dilihat sewaktu-waktu saja dan langsung diimplementasikan kembali ke arah kehidupan di depannya, bukan dilihat seterusnya karena masih terjadi proses kehidupan selanjutnya. Spion yang baik dan benar itu adalah apabila kacanya  tidak bergelombang, tidak cacat pabrik atau tidak pecah dan menjadi tuntunan arah secara **linear. Dimanakah harus membeli spion yang sesuai standar ***(SNI)? jawabannya adalah dari yang Maha menciptakan kaca spion-spion tersebut langsung melalui perantaraNya yang dapat dipercaya, sehingga tanpa rekayasa dan manipulatif demi kepentingan individual, golongan atau kelompok tertentu.

*alam, semesta dan manusia, **idealis, ***Standar Nasional Iman

2012-01-06 08.31.42

Almahyra : Berhasil dengan baik, cerdas dan beruntung
Awandini : Baik dan mulia
Name     :     Nameera
Arabic     :     ?????
Gender     :     Girl (Perempuan)
English     :     Delicious water, pious woman.
Indonesian     :     Lezat air, wanita yang saleh.

N is for neatness, your orderly way.

A is for affirm, the certainty of knowledge.

S is for secret, that you can certainly keep.

M is for mirth, your laughter.

E is for electric, a sparkling trait!

E is for enrich, a quality you share.

R is for relax, you know how!

A is for altruism, the unselfish you.

dari Ali ahmad Sa’id

Jangan katakan bahwa cintaku sebentuk cincin atau gelang.
Cintaku adalah pengepungan benteng lawan, ialah orang-orang nekat dan pemberani sambil menyelidik mencari- cari, mereka menuju mati.
Jangan katakan bahwa cintaku ialah bulan, cintaku bunga api bersemburan.

image

First Qiblah Mosque (Baitul Maqdis)

The Khilafa

Just imagine how Imam Mahdi would be feeling... He is seeing Al-Aqsa Mosque is under the control of enemies of Islam since more than half a decade and Muslims are doing nothing for it.

Al-Aqsa Mosque. source : http://tabarsi.deviantart.com

…..

“Kita tidak boleh terjebak dengan upaya ‘devide et impera’ ini. Umat Islam tumbuh dalam satu kesatuan yang sama, berpijak di garis yang sama di bawah kalimat tauhid yang sama, sayangnya umat yang begitu besar dalam jumlah kuantitas ini seperti ranting kering yang begitu mudah dipotong dan dipatahkan lalu pecah menjadi beberapa aliran, sekte, ajaran, madzhab dan lain sebagaianya. Upaya-uapaya pemecahbelahan ini yang kemudian diperkuat oleh kelemahan umat Isalam itu sendiri dalam perapatkan shaf membuat Yahudi yang sebenarnya begitu lemah menjadi musuh yang sangat kuat. Ini bukan zamannya lagi kita dipermainkan seperti ini, umat Isalam harus bersatu. Tanah Suci menjerit mengorbankan begitu banyak darah dan sebentar lagi Masjid Kiblat akan dihancurkan sementara kita masih bisa tidur dan bermimpi dengan begitu indah”….

“Ini adalah semua permainan media, mereka menguasai industri media dan kehumasan global dan tak ada yang dapat kita lakukan untuk itu saat ini. Diperlukan sebuah kekuatan yang bersatu padu untuk menghadapi kekuatan media ini, bukan dengan perang tapi dengan pencitraan yang baik. Bila sebuah kekuatan besar dalam jumlah populasi yang mencengangkan bisa berkumpul di setiap kota besar di dunia bergerak secara sistematis menyuarakan Islam dan menyatakan bahwa Tanah Suci harus dikembalikan kepada umat Islam dengan cara-cara terbaik, maka kita tidak perlu menggunakan pedang atau senjata apa pun untuk menghalalkan darah musuh. Kekuatan kita terlihat ketika kita bersatu dalam shaf yang sama, bergerak dalam gerakan yang sama, mengibarkan bendara hitam yang sama, meneriakan asma Allah secara bersama-sama. Kita tidak perlu senjata apa pun, barat akan melihat ini dan umat agama lain di dunia akan memberikan pengakuan luar biasa bahwa Islam telah memperlihatkan sebuah kekuatan maha dahsyat yang bergerak secara damai”.

…..

Source : Zaynur Ridwan

Harmonize

Kami, manusia yang terlahir atas dasar kompetisi (you know what i mean), sehingga sudah menjadi pukulan hebat buat kami manusia saat ini untuk hidup bersaing. Persaingan bukan berarti berkonotasi negatif, akan tetapi persaingan dalam tataran kemampuan untuk mentelaah hidup agar dapat bertahan dan sekedar tidak terhempas hingga akhirnya tersisihkan.

Hidup nyata yang harus diperjuangkan adalah bentuk adaptasi yang merupakan manifestasi dari hukum objektifitas manusia. Keadaan ingin makan, berarti kita harus mencari apa yang bisa di makan, dalam keadaan haus, sadar cairan dalam jenis apa yang seharusnya dapat membasahi kerongkongan, begitu juga kebutuhan hunian, pakaian, kendaraan, bahkan buku yang akan menjadi bacaan kita, selebihnya adalah fenomena/subjektifitas

Esensi hidup untuk dapat beradaptasi sepatutnya diperjuangkan, setidaknya saat menyerah akan berbagai kondisi, selalu ingat akan berbagai hal yang telah mendidik hati untuk sepantasnya bilang ‘saya mampu bertahan’. Air susu yang tidak bisa mengalir karena kurangnya asupan makanan bergizi, bayi-bayi yang bernasib buruk dar yang terlalu susah/mahal untuk mendapatkan susu formula hingga ditakdirkan lahir ditempat yang tidak semestinya, bahkan mani (cement) yang tidak mendapatkan kesempatan untuk masuk kedalam sel telur dan gugur. Jawaban itu yang harus selalu membayangi semua pertanyaan atas keluhan karena semata-mata tidak dapat beradaptasi.

Pengelihatan di depan mata ternyata jauh tidak sebanding dengan pengelihatan saat berada jauh di angkasa, terlalu banyak masalah/hal yang tidak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu sesaat bahkan diluar batas kewajaran/pemikiran akal sehat, but it is done, its that right?, sementara kita harus bersusah payah akan setiap kondisi kehidupan yang kita hadapi ‘that is given’, please face your fear..alright?

Berdalih wajar Dia adalah Tuhan, it is not that simple answer!. apalah arti one person who live in the small area, please compared with the all of adaptation problem in the huge area?! selalu aktif menilai hal secara generatif. Naif saat dihadapkan dengan kondisi sulit untuk berkeluh berkesah, pola pikir terlalu kompleks dan sudah purba, atau antara objektifitas dan subjektifitas tidak seimbang, semua hanya membuat kami menjadi kerdil.

Ketidak mampuan bukan jawaban untuk tidak dapat bertahan, gunakan ketidakmampuan untuk dapat ‘survive’ dengan arti yang sesungguhnya. Aku bodoh, aku jelek, aku tidak berkedudukan, aku tidak bermakna, aku tidak berpendidikan dan minder adalah bukan sebuah harga mati. Kemampuan beradaptasi dengan mengindahkan keseimbangan alam/objek yang jadi tujuan secara dependen. Norma kesesuaian dan kepantasan adalah hal utama dalam upaya mengadaptasi, agar terasa tidak memaksa, seperti ada salah satu bangsa yang dilahirkan untuk tidak mempunyai wilayah/tanah/teritori tempatnya berpijak, dalam upayanya mencari lahan (adaptasi) mereka menyerang dan merebut teritori disekitarnya dengan pelbagai cara.

Prove it your self better more than animal just to be able to live in harmony. That’s given gave a life…take a life and get out from the box

Image

Devisa yang tiada akhir (TKI)

Semalam (6 Februari 2014), tepat pukul 22.00 wib saya tertegun oleh informasi yang tidak sengaja saya serap melalui media televisi, informasi yang disuguhkan adalah tentang anak-anak berusia balita di sebuah rumah asuh (panti) yang terletak di daerah Cibubur Gunung Putri Bogor. Sekilas memperhatikan mereka adalah sebuah kesejukan, kecerian, kebahagian, kesenangan, mereka sangat sekali menikmati asuhan dari para pengurus panti asuhan tersebut, bermain, bercanda, tertawa, berlari dengan riang gembira. Kondisi fisik dan mental yang sepertinya tidak terganggu sehingga membuat mereka merasa aman dan nyaman dan larut di dalam dunia mereka masing-masing.

Setelah segmen satu selesai yang diselingi oleh iklan, cerita sebab akibat dibalik semua kebahagiaan yang mereka dapatkan, mulai terpaparkan tahap demi tahap kepada penikmat televisi yang mungkin secara tidak sengaja melihat tayangan tersebut seperti saya. Keberadaan anak-anak lucu nan mempesona hati dibalik tembok panti itu ternyata bermacam adanya. Awalnya saya sadar bahwa kebanyakan keberadaan atas mereka sebab dari ketidakadilan orang tua, prasangka subjektifitas saya adalah disebabkan oleh orang tua yang tidak siap secara ekonomi tetapi sudah terlanjur mempunyai anak, lalu mereka tidak mampu untuk memberi kehidupan, dan akhirnya dititipkan di panti asuhan tersebut. Harapan saya adalah saat orang tuanya sudah siap baik secara ekonomi akan kembali atau ditempatkan kepada pihak-pihak yang secara hukum bisa menjamin keselamatan dan masa depan anak tersebut.

Segmen selanjutnya adalah segmen yang saya nantikan, karena ternyata mereka adalah termasuk anak-anak bangsa khususnya anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terlantar dan diselamatkan oleh sebuah organisasi. Semenjak itu saya baru mengerti mengapa di bandara (airport) di jakarta banyak TKI yang pulang ke Indonesia dengan membawa anak-anak dalam gendongannya, setelah sebelumnya saya beranggapan mereka pasti membawa anak untuk bekerja atau sewaktu menjadi TKI sudah hamil atau juga ada suami sah-nya yang masih bekerja di negara tempat mereka bekerja. Tayangan yang saya saksikan ini memang menampilkan anak-anak yang sebagian besar berwajah seperti orang asing (indo), setelah penayangan yang semakin mendalam, ternyata anak tersebut adalah hasil korban tindak perkosaan, baik yang dilakukan oleh orang asing maupun majikan saat mereka bekerja di luar negeri, dan ada juga hasil hubungan terlarang yang didasari oleh suka sama suka.

Alhasil anak-anak hasil perbuatan tersebut tidak diharapkan oleh mereka (TKI), sebagian dari mereka apabila bernasib baik oleh orang tuanya  langsung dititipkan di panti, ada juga sebagian lagi ada yang ditinggalkan di WC (bandara), ada yang di buang atau mencoba untuk dibunuh, dan terakhir adalah dijual. Berdasarkan keterangan dari pembawa acara televisi tersebut, berdasarkan sumber yang di percaya salah satu alasan mereka adalah tidak mau menanggung beban malu (aib) karena sewaktu mereka berangkat tidak membawa anak. Beberapa orang (TKI) menuturkan

jika saya pulang dan tiba-tiba membawa anak, apa kata orang-orang di kampung saya..?!

beban hidup saya sudah sulit, apalagi harus menanggung anak yang tidak saya harapkan..

saya tidak mau anak yang saya kandung, makanya saya coba untuk gugurkan dengan minum obat-obatan..

Diantara anak-anak suci dan lucu itu ada salah seorang anak laki-laki berparas tampan, akan tetapi memiliki ketidak berdayaan secara fisik (cacat), menurut pengurus panti, anak tersebut di dapatkan dari seorang TKI yang dari sejak hamil dengan sengaja meminum obat-obatan di negara tempatnya bekerja.

Sementara itu salah satu pengurus panti juga pernah menuturkan pengalamannya, suatu hari menjelang magrib salah seorang anak kurang lebih umur 2,5 tahun (jika tidak salah dengar, karena sambil mengantuk), tiba-tiba menangis hebat dan tidak berhenti hingga menjelang tengah malam, usaha yang dilakukan pengurus sudah tidak mempan dari mulai diberi susu, digendong, dialihkan perhatian (diberi mainan), karena tidak tega melihat kondisi anak tersebut, sampai pada akhirnya  mereka mencoba menghubungi ibu kandungnya. Benak saya pun menduga pasti anak tersebut sebenarnya saat itu tidak menginginkan apa yang semua telah diberikan oleh pengurus panti, mungkin tangisannya adalah sebuah manifestasi rasa kangen yang mendalam pada ibu kandungnya.

Kedatangan ibu kandung dari anak tersebut ke panti sangat dinanti oleh anak yang rindu akan dekapan ibunya bersamaan dengan ibu pengurus panti yang sudah tidak kuasa membendung tangisan anak tersebut. Harapan ibu pengurus panti tersebut sebenarnya sangat simpel yaitu menginginkan anak yang menangis tersebut menjadi tenang setelah datang ibu kandungnya, namun hal terjadi adalah di luar batas kewajaran manusia, tiba-tiba dengan wajah geram anak tersebut langsung diraihnya dari gendongan pengurus panti, dan langsung diletakan di bahu si ibu dengan posisi berbalik arah, lalu berusaha menenangkan anak tersebut dengan cara ditepuk-tepuk secara keras punggung anaknya, ternyata usaha tersebut gagal, anak tersebut semakin tambah menangis hebat, hingga akhirnya si ibu dengan kesabaran yang mungkin terbatas pergi meninggalkan pengasuh tersebut dan mencari kamar mandi. Pikiran apa sebenarnya yang ada pada ibu kandung tersebut hingga langsung diikuti oleh pengurus panti, dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan. Dugaan pengurus panti menjadi semakin nyata, karena sambil berjalan cepat anak tersebut dibalikkan tubuhnya hingga ibu tersebut memegang kedua kaki anak tersebut, sesampainya di kamar mandi ibu tersebut ‘mencelupkan’ tubuh anak tersebut ke dalam bak yang terisi air penuh hingga sebatas perutnya lalu dikeluarkannya lagi, hal tersebut diulangnya hingga ketiga kalinya.

Mengetahui hal tersebut, pengurus panti langsung merebut dan menggendong anak tersebut dari genggaman ibu kandungnya, lalu dengan reflek pengurus panti tersebut mengusir dan menunjuk-nunjuk muka ibu tersebut sambil memaki. Kejadian amoral tersebut langsung disaksikan pengurus panti tersebut, betapa kejamnya siksaan yang didera pada anaknya di depan matanya. sehingga ibu tersebut melangkahkan kaki dan keluar, sontak ibu tersebut berteriak

jangan dimanja! saya sudah lakukan itu sewaktu saya masih kerja dulu!!

Mendengar penuturan pengurus panti tersebut tiba-tiba hati, tangan bergetar dan tanpa disadari air mata saya keluar, tangan ini rasanya ingin meremas tubuh si ibu tersebut dan menendangnya seperti bola sepak hingga hancur.

Penuturan informan lain yang juga kepala salah satu badan penanggulangan TKI, pihaknya pernah ‘menangkap basah’ pelaku penjualan anak/bayi dari ibu-ibu TKI di bandara/airport di Jakarta, berikut penuturannya

pihak kami pernah menenukan kasus penjualan anak TKI, sindikat tersebut biasanya mangkal di bandara, dan yang menjadi sasaran atau targetnya adalah para TKI yang menggendong anak

Menurut penuturan beliau sindikat tersebut sudah ada sejak lama, hanya saja tidak terlihat dan ‘terekspose. Cara kerja mereka adalah menunggu calon mangsanya bahkan hingga di depan pintu pesawat. Para TKI yang terjerat biasanya dibawa ke salah satu tempat yang aman dan langsung terjadi tawar menawar. Sindikat tersebut tidak main-main, mereka langsung membawa sejumlah uang cash untuk langsung bisa ditukar dengan anak/bayi yang dibawa oleh TKI. Penawaran sindikat tersebut juga sangat fantastis antara Rp. 50-100 juta.

Sehingga dari pada mereka malu pulang kampung karena menanggung aib memiliki anak yang tidak jelas siapa bapak kandungnya, ditambah lagi penghasilan atau gaji yang mungkin habis dalam perjalanan atau diperas pihak tertentu, akhirnya tanpa pikir panjang mereka terpedaya dengan menjual anak-anak tidak berdosa tersebut. Mata rantai dosa ini saya yakin sudah ada sejak lama, sehingga tidak akan terputus apabila kondisi situasi negeri ini masih tidak menentu.

Fenomena di atas dapat saya simpulkan bahwasanya TKI yang tersangkut kasus tersebut, tidak mau menanggung beban hidup yang berlipat, artinya sudah mereka diperas tenaganya, diperkosa hingga dihamili hingga diusir secara halus dengan diberi sejumlah uang demi jasa tutup mulut dan juga diberi biaya mengurus anak secukupnya. Akhirnya mereka mencari jalan yang menurut mereka singkat dan aman. Tentunya saya lebih senang karena ini mungkin sebagian kecil dari tindakan para pelaku yang tidak bertanggungjawab, dan saya yakin masih banyak TKI yang sukses dan bahagia tanpa harus menjadi beban negara setelah mereka kembali ke negara ini. Masalahnya adalah sampai kapan fenomena ini terus berlangsung, haruskah kita (secara tidak langsung ikut merasakan) menjadi budak di negeri orang sementara kita hidup di negeri kaya raya ini??

Tulisan ini hanyalah satu dari sekian banyak bentuk kepedulian saya atas nasib anak bangsa dan negara yang indah ini, semoga bermanfaat bagi pembaca dan tidak lupa mohon maaf apabila ada kesalahan dalam mencerna atau memaparkan informasi ini, dan sekali lagi tidak ada niat untuk menjatuhkan salah satu pihak. Salam perdamaian

images

images2

%d blogger menyukai ini: