karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

SEBUAH CONTOH PERILAKU DAN BUDAYA KESEHATAN

A. BAHASA VERBAL

Saya bekerja pada institusi pendidikan STIKES Budi Luhur yang terletak di Bandung Barat tepatnya di Kota Cimahi. Latar belakang pendidikan saya sebenarnya adalah dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Saya baru bekerja selama 4 bulan dengan tugas mengajar mata kuliah ilmu komputer. Selama bekerja pada institusi ini, saya mengalami beberapa kesulitan dalam berkomunikasi, dan yang kerapkali menjadi masalah adalah tentang istilah-istilah kesehatan. Oleh karena latar belakang pendidikan saya yang jauh dari ilmu kesehatan, maka saya kurang familiar dengan  istilah-istilah kesehatan, padahal istilah-istilah tersebut sering digunakan untuk mengaplikasikan antara komputer dan kesehatan dalam kegiatan belajar mengajar. sebagai contoh konkritnya jika saya ingin memberikan contoh aplikasi computer yang dikaitkan dengan kesehatan misalnya hitung dengan menggunakan Mean pada Ms. Excel rata-rata penyakit “servicks ca” di wilayah A karena tidak berkaitan dengan statistik saya tidak bisa memberikan contoh begitupun dengan yang lainnya yang berkaitan dengan kesehatan. Begitu juga dengan istilah-istilah kesehatan dalam bahasa latin yang sering digunakan oleh paramedik terkadang saya tidak tahu artinya sehingga menyulitkan bagi saya untuk bisa lancar dalam berkomunikasi .

B. NON VERBAL

Selain hambatan dalam komunikasi dengan bahasa verbal, saya pun acapkali mengalami hambatan komunikasi dalam bahasa non verbal. Salah satunya adalah bahasa non verbal berupa cara berpakaian. Hambatan ini saya alami saat pertama kali mengajar. Berdasarkan kebiasaan berpakaian saya di tempat kerja sebelumnya yang dituntut untuk tidak terlalu formal, saya pun datang mengajar dengan pakaian seperti itu. Akibatnya adalah saya mengalami kesulitan komunikasi dengan para mahasiswa. Mereka cenderung tidak respek dengan kehadiran saya dan bahan kuliah yang saya sampaikan tidak didengarkan dengan serius. Hal ini menyebabkan kegiatan belajar mengajar menjadi tidak optimal.

C. IDEOLOGI, Nilai-nilai, Sosial

Salah satu alumni kami pernah menceritakan pengalamannya sewaktu dia melamar ke salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Dia mengikuti seleksi pegawai yang diadakan oleh rumah sakit tersebut. Dari 3 tahap seleksi yang diselenggarakan, dia dinyatakan telah lulus seleksi tahap ke-2. Saat seleksi tahap akhir yang berupa wawancara dengan bagian HRD rumah sakit, dia dinyatakan telah memenuhi semua kualifikasi yang dibutuhkan. Namun, ada satu hal yang menyulitkan dia untuk diterima yaitu jilbab yang dikenakannya. Pihak rumah sakit menganggap bahwa jilbab dapat menghalangi dan sangat mengganggu dalam melakukan pekerjaan sebagai perawat.  Dengan keputusan seperti itu pihak rumah sakit menyuruh perawat tersebut untuk merelakan jilbabnya untuk dibuka. Karena anak tersebut mempunyai prinsip dan nilai-nilai agama yang kuat dan akan tetap pada pendiriannya maka suruhan tersebut ditolaknya dengan alasan sudah menjadi kebiasaan untuk  menutup auratnya dengan kerudung. Lalu dengan sangat terpaksa pihak rumah sakit tersebut menolak calon perawat tersebut karena tidak bisa memenuhi salah satu kriteria perawat di rumah sakit tersebut.

D. BAHASA

Mahasiswa yang ada di lingkungan STIKES Budi Luhur berasal dari berbagai macam daerah yang ada di wilayah JABAR dan luar daerah. Selain itu mereka juga berasal dari berbagai macam suku dan kebudayaan yang berbeda. Khususnya mahasiswa baru, terkadang dosen/pengajar kesulitan dalam memberikan pelajaran dengan latar budaya JABAR karena staf pengajar kebanyakan berasal dari daerah sekitar yang kebanyakan menggunakan bahasa sunda. Maka ada beberapa dari mahasiswa yang terkadang susah untuk menerimanya walaupun sudah dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh sewaktu mahasiswa dapat simulasi pelajaran praktek di Puskesmas, ceritanya ada seorang ibu datang bersama dengan anaknya yang sakit, selanjutnya petugas (mahasiswa) bertanya pada ibu tersebut “Siapa yang sakit Bu?”, lalu si ibu pun menjawab “Murangkalih”. Dengan polosnya si mahasiswa tersebut menulis pada lembar status pasien dengan nama pasiennya adalah “Murangkalih”. Karena berasal dari daerah diluar jawa maka sewaktu pemanggilan anak itu, maka si mahasiswa tersebut menyebut nama “Atas nama murangkalih silahkan masuk ke ruangan periksa…” Terjadi kekeliruan karena kata ‘murangkalih’ yang dalam bahasa Sunda berarti “anak” sedangkan  diartikan oleh mahasiswa tersebut sebagai nama anak ibu tersebut.  Ini adalah salah satu contoh komunikasi bahasa yang kerap sekali muncul.

3 responses

  1. Nona

    gag nyambung..

    Januari 14, 2011 pukul 8:05 pm

    • Thanks udah mampir gan

      Maret 19, 2011 pukul 12:13 am

    • trims sudah sudi mampir…

      Oktober 8, 2013 pukul 11:20 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s