karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

Cerita Sendiri

Saat ketika saya berada dalam lingkungan dimana orang lain tidak menjadi prioritas dalam kebutuhan saya, maka saat itu pula saya merasa diri saya adalah orang yang paling bisa berkarya sesuai dengan kemampuan, minat dan bakat saya. Melalui sekian banyak manusia yang ada di bumi ini mungkin hanya 1-2 orang saja yang kagum dengan apa yang saya lakukan, dan itu membuat saya senang, walaupun apa yang saya lakukan adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang lain dan membuat 1-2 orang tersebut kagum, ingin berkenalan, dan merasa membutuhkan pertolongan dengan apa yang saya lakukan karena mereka tersesat di bidang yang kebetulan kemampuan saya.

Disaat saya berfikir akan apa yang saya lakukan itu bisa saya kerjakan sendiri, saya akan berangkat dengan membawa bekal (apapun bentuknya), yang pasti saya tidak membawa perbekalan yang sifatnya nanti akan membuat saya susah. Dalam persiapan dimana saya akan melakukan keinginan saya, saya sadar dan faham akan apa yang saya bawa, diantaranya tas, tempat minum berserta air yang berkapasitas 1,5 liter, beberapa potong roti, pisau lipat favorit tapi karena fikiran saya sedang merasa sudah jauh ditempat yang akan saya datangi, maka pisau lipat favorit kebanggaan saya lupa ditempatkan dimana maka saya bawa pisau lipat cadangan saya.

Selain itu saya membawa perlengkapan topi, tali temali, walkman, dan perlengkapan elektronik lainnya (kecuali HP), baju, celana pendek, sepatu running dan semua satu stel yang langsung dipakai di badan. Walaupun saya membawa bekal secukupnya tapi dalam transportasi saya membawa 1 buah mobil double cabin, yang tepat di atasnya (roof rack) ada satu buah maountain bike.

Saya pun bergegas berangkat yang sedikit demi sedikit pergi meninggalkan rumah, padahal sebelum saya menutup pintu rumah terdengar ada telepon masuk yang meninggalkan pesan. Saya melaju terus tanpa batas mencari dimana akan ditumpahkan segala kemampuan saya sendiri. Hingga malam menjelang akhirnya tiba saatnya saya untuk beristirahat di tempat perkumpulan orang yang menurut saya melakukan hal serupa dengan saya. Dengan mata terkantuk-kantuk saya pun langsung keluar dari mobil dan pindah di cabin tengah untuk tidur dengan berselimutkan sarung.

Pagi menjelang dimana saya harus bangun dan menurunkan mountain bike yang berada di atas cap mobil saya, dengan perlengkapan yang saya bawa, saya langsung melaju dengan sepeda menuju tempat dimana saya akan melakukan aktifitas kemampuan yang saya miliki. Berangkat sambil mengayuh terus sepeda saya, dan ditemani dengan musik favorit melalui walkman dan topi agar tidak panas dan menyerap keringat, melewati gundukan pasir, batu dan apapun yang melewatinya.

Setibanya dekat dengan tempat yang saya inginkan, saya pun meninggalkan sepeda saya dengan tidak lupa untuk mengunci sepeda saya di pohon sekitar tempat itu. Saya pun berjalan melewati lembah, bukit, dan hutan dan terkadang berlari dengan penuh semangat, saya tidak galau, resah, dan gelisah saat saya harus sendiri mengatasi semua permasalahan yang nanti akan muncul. Dengan ditemani lagu rock dengan sengatan matahari yang mulai terasa di leher yang berair hingga dalam perjalanan saya bertemu 2 orang wanita sedang tersesat mencari tempat yang mereka kehendaki.

Kami pun bercakap dan saling bertanya dengan pertanyaan yang biasa ditanyakan sewaktu anda betemu orang yang tersesat, dan mereka pun bertanya dengan saya dengan pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh orang yang baru bertemu dan tersesat. Saya hanya menjawab dengan jawaban yang saya anggap saya menguasai tempat wilayah ini sehingga saya akan antar mereka ke tempat tujuan mereka. Akan tetapi mereka pun membatalkan tempat tujuan mereka semula, karena mereka berdua sepertinya lebih tertarik untuk berkunjung ke tempat yang mereka belum pernah kunji di daerah ini.

Dengan senang hati saya menunjukan tempat itu, saya membawa mereka ke tempat dimana orang jarang sekali melakukan hal bodoh tersebut selain saya. Dicelah yang hanya masuk sebadan orang dewasa normal itu saya, mereka masuk dengan hanya berpijak pada kaki, tangan, dan punggung tanpa alat pengaman. Setelah semua masuk lalu saya melepaskan pijakan tersebut dan membiarkan saya jatuh menuju arah gravitasi bumi sambil berteriak, Sontak kedua teman saya tadi kaget bukan kepalang melihat saya jatuh diantara dua dinding tersebut yang entah kedalamannya berapa meter, karena jika melihat kebawah dari atas sangat gelap sekali.

Saya pun jatuh hingga akhirnya masuk ke dalam air dingin yang biru, sewaktu muncul kembali saya berteriak kepada mereka berdua apabila mereka mengikuti langkah saya tadi, mereka akan sangat merasa luar biasa berada di bawah sini. Mungkin dengan berteriak seperti itu saya bisa meyakinkan mereka jika di bawah sini sangat indah, dengan itu mereka berdua berfikir apakah benar apa yang dilakukan oleh saya itu akan aman dilakukan oleh mereka. Akhirnya mereka satu persatu mengikuti saya untuk melepaskan tangan, punggung dan kaki mereka sambil menjerit dan msauk kedalam dinginnya air.

Sewaktu muncul ke permukaan mereka tidak percaya jika hal yang mereka lakukan itu sungguh-sungguh terjadi dan mereka sangat ingin mengulang kembali apa yang telah mereka lakukan hingga berkali-kali, kami pun melepas pakaian kami untuk naik kembali ke atas dan melakukan hal serupa, tidak lupa kami mengabadikan momen ini menggunakan camera vidio yang saya punya sambil bergantian.

Hingga kami terpuaskan, akhirnya kami keluar dari celah oasis itu dan berjalan menuju tempat datangnya sinar matahari siang. Dengan rasa kekraban yang kami bangun kami pun terpaksa harus berpisah, karena saya ternyata harus melanjutkan perjalanan saya ke tempat tujuan. Kedua wanita tersebut bersalaman dengan sayadan saya pun meninggalkan mereka perlahan seraya terdengar sayup-sayup beberapa kalimat yang terlontar dari mulut mereka sepertinya salah satu dari mereka menyukai saya.

Dalam perjalanan saya pun terus berjalan dan berlari, sambil mendengar lagu rock kesukaan saya sambil sedikit mengikuti lantunan lyrik lagu tersebut, melewati bukit, lembah dan celah bebatuan sambil merasakan dengan indra angin,udara dan tekstur bebatuan dengan menggunakan kedua telapak tangan saya seakan ini adalah kekuasaanku, aku pun akhirnya melewati batu dan turun ke dalam celah yang lebih dalam lagi seperti jalur bekas air hujan yang mengalir.

Sewaktu saya menginjak batu besar itu sebelumnya saya yakin bahwa batu tersebut kuat untuk saya pijaki sebelum saya turun ke celah terdalam pada cadas tersebut, saya pun turun dengan tangan mencengkram batu yang pada akhirnya saya bersama batu tersebut jatuh bersamaan karena batu tersebut ternyata tidak kokoh untuk tempat saya menggantung. Saya pun terjatuh kurang lebih sedalam 5 meter dari tempat saya berpijak terakhir.

Hingga akhirnya saya pun berteriak kesakitan karena ternyata tangan kanan saya terhimpit batu besar diantara dinding celah tersebut. Disinilah awal mula saya merasakan bahwa we can’t do everything without U…lanjut cerita tapi masih dengan kesanggupan saya, akhirnya saya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan batu yang menghimpit tangan saya tersebut dengan kedua bahu, tangan kiri, hingga paha kedua kaki saya, batu pun tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Siang pun berlalu seraya saya melihat ke atas hanya burung elang hitam yang terbang melintasi celah bebatuan tersebut seakan-akan pulang ke sarangnya dan bertemu dengan keluarganya.

Saya pun melepaskan segala perlengkapan saya yang masih menempel di badan satu persatu agar mengurangi beban letih saya ; topi, jam, tas, walkman, dan lain-lain dengan menggunakan tangan kiri saya, saya mencari pisau lipat yang saya bawa, bermaksud ingin mencoba memahat batu yang menghimpit tangan saya ini. Setelah ketemu saya mencoba terus memahat batu tersebut, hingga tengah malam tiba, setelah melihat jam tidak terasa ternyata sudah pukul 2.45 pagi. Saya baru sadar ternyata saya belum minum setetes air pun, sontak tangan kiri saya langsung mengambil tempat minum yang didalam nya masih tersisa air kurang lebih 1 liter lagi, saya reguk sedikit air tersebut agar tidak cepat habis. Saya pun beristirahat sejenak dengan tidur sambil berdiri……

Hingga pagi menjelang dan saya kaget dan terbangun hingga terlihat di antara celah bebatuan yang menghimpit tangan dan tubuh ini, perlahan lahan cahaya mentari masuk di antaranya. Tanpa terasa kaki menahan semalaman berat tubuh ini hingga semua darah dalam tubuh ini menuju ke kaki dan dingin seperti es, dan perlahan sinarnya pun mendekati kaki ini dan berhenti sekitar jarak 50 cm lalu saya julurkan salah satu kaki saya ke sinar tersebut dan bermaksud untuk mendapatkan panasnya hingga kaki ini tidak beku. Dan saya pun merasakan kaki pucat saya disinari mentari pagi yang sarat akan vitamin.

Saya pun meminum air di dalam tempat minum plastik warna biru lagi hingga berkurang 5 mili, saya pun mengulangi pekerjaan saya untuk melepaskan himpitan batu tersebut, saya berusaha untuk memecahkan sedikit demi sedikit batu itu dengan pisau saya, dan bukanya bongkahan-bingkahan besar yang saya dapat akan tetapi hanya debu yang saya hasilkan oleh pisau ini, dan ujung pisau yan ghancur sedikit-demi sedikit. Lalu saya kembali berdialog dengan handycam saya dan berkata “jangan sekali-kali anda menggunakan produk china..!!”

Siang menjelang mata pun mulai tidak kuat karena menahan lapar yang terangat sangat, saya kembali minum air dalam botol saya 5 mili lagi, saya coba mencari sisa roti yang saya bawa dan memakanya sedikit. saya pun terus bekerja mengikis batu tersebut sambil bernyanyi mendendangkan beberapa lagu rock kesukaan saya, hingga tisak terasa waktu pun berlangsung sore hari dan saya selalu melihat ke atas burung elang yang selalu melintasi celah diatas kepala saya jika akan pulang menuju keluarganya. Hingga malam menjelang dan gelap. Saya coba memasang headlamp yang saya bawa danterus bekerja memehat batu keras itu hingga tengah malam saya pun dihinggapi rasa kesal dan menganggap semua ini bohong, dan saya masih bersikeras semua ini akan saya tangani dan saya pasti akan bisa keluar dari situasi ini.

Dalam kekesalan tersebut akhirnya saya kecapaian dan tertidur, di dalam tidur saya bermimpi melihat sofa warna coklat muda yang sangat nyaman dan perlahan datanglah satu demi satu keluarga tercinta saya hingga orang yang telah meniggalkan saya dan mereka semua duduk dengan manis di sofa tersebut. Sontak saya terbangun dalam tidur tersebut dan melihat di sekitar saya ternyata masih dinding berbatu, hingga tidak terasa saya kembali meminum air di dalam botol saya 2 teguk. Setelah meminumnya saya pun merasakan dan mendengar di belakang saya seperti ada anjing di dalam film-film kartun yang sedang menertawakan saya. Saya pun kaget dan mencari anjing itu hingga ahirnya saya sadari saya baru saja berhalusinasi.

Hingga pagi menjelang sudah hari ke tiga saya bertahan, saya selalu mengerjakan aktifitas rutin sebagaimana di hari-hari sebelumnya saya beraktifitas. Siang pun menjelang dan kondisi tubuh ini sudah mulai menurun, karena roti yang saya bawa akhirnya habis saya hanya bisa membayangkan saya sedang makan dan minum di sebuah restoran termahal di dunia dan di layani oleh pelayan profesional. Anjing kartun halusinasi saya pun muncul dalam pikiran saya beberapa kali dan hampir seperti wujud asli, dia pun berpindah-pindah tempat sesuka dia di dalam celah itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Saya pun mereguk air yang hanya tinggal tersisa 5 mili lagi, saya mencoba membuat tempat yang nyaman untuk saya tidur di malam hari dengan mencoba membuat tempat tidur dengan menggunakan tali panjat dengan keahlian yang saya miliki. Akhirnya tali itu pun membentuk sebuah tempat tidur gantung. Hingga malam menjelang saya pun kembali bernyanyi dan mencoba berbicara kembali dengan handycam saya, hanya mengatakan saya pun ternyata masih bisa nyaman di dalam kesulitan saya dan dengan kemampuan ini saya masih kuat untuk bisa bertahan hidup.

Biasa setiap malam tiba dan setelah saya bekerja seharian untuk membongkar batu keras itu, saya pun terlelap dalam tidur ini dan mimpi-mimpi selalu menemani saya kembali ke dalam pelukan keluarga saya sewaktu saya masih kecil dan duduk di sofa coklat muda di temani oleh ayah dan ibu, seakan dekapan mereka adalah dekapan ternyama. Hingga dua orang wanita yang saya temui di dalam perjalanan saya 4 hari yang lalu datang dan mencium kening saya di kolam renang, saya pun terlena dengan segala nikmat di dalam mimpi saya, tanpa terasa pagi pun menjelang hingga saya melihat ternyata celana saya basah dan dipenuhi cairan ‘bening’.

Saya melakukan buang air besar dan kecil pun di tempat tersebut, jadi saya coba untuk melihat diri saya ternyata mulai sadar saya seperti anak kecil yang tidak terurus. Hari ke lima saya coba untuk berfikir dengan ide gila saya apabila saya potong saja tangan saya dan saya akan terbebas dari kesengsaraan ini, tapi itu pun saya tidak berani. Saya pun berfikir kembali jika saya lolos dari masalah ini saya akan membunuh anjing halusinasi saya, saya akan tidur seharian di sofa coklat muda itu dan saya berfikir hal-hal yang membuat saya puas untuk membalas semua penderitaan yang saya alami saat ini.

Air terakhir ternyata sudah habis, tidak ada makanan, tidak ada teman, hanya tikus dan serangga gurun yang lewat di dalam celah itu, siang menjelang halusinasi itu makin menjadi, karena saya coba melawan rasa lapar dan haus sewaktu mentari di atas kepala. Akhirnya ide tidak masuk akal saya pun muncul untuk membendung air seni saya di dalam botol minuman saya, lalu saya tempatkan botol air tersebut di bawah tubuh saya dan saya beri sedotan panjang menuju ke mulut saya. Tidak berfikir panjang lagi, saya pun akhirnya meminum air seni saya dengan rasa yang begitu menyakitkan. Saya selalu merekam kondisi di mana saya tidak bisa berfikir panjang untuk berbuat sesuatu.

Besok harinya yaitu hari ke enam saya akhirnya memutuskan untuk berhenti berusaha, saya pasrah dengan kondisi, saya  sudah perkirakan akan mati di tempat sempit ini, saya pun tidak melakukan apa-apa pada hari ke enam ini, dan saya berfikir akan sangat percuma saya keluarkan energi berlebih untuk hal yang tidak mungkin saya lakukan. Berdiam dari pagi hingga menjelang sore, saya akhirnya meneteskan air mata, saya berteriak sekuat tenaga, dan saya merasa diri ini bodoh tidak bisa melakukan hal yang mungkin selalu di lakukan oleh saya. Akhirnya badai hujan pun datang awan menjelang sore tiba-tiba berubah menjadi gelap hingga turun setetes demi setetas air hujan, perlahan membesar dan akhirnya hujan lebat pada malam itu.

Tubuh ini perlahan basah kuyup dan tanpa terasa karena sifat air mencari tempat terendah, sejumlah debit air yang cukup besar pun mengisi celah-celah bukit berbatu tersebut, tanpa terkecuali celah dimana saya terjebak. Paniknya kondisi tersebut saya hanya bisa memasukan peralatan saya semula kedalam tas anti air saya. Hingga akhirnya air pun perlahan menenggelamkan kaki, paha, perut, dada, leher dan kepala saya. Saya pun tenggelam di dalam penuhnya celah bukit itu oleh air hujan, dengan mangambil sisa nafas (oksigen) sewaktu air di sebelum menenggelamkan tubuh ini saya pun mencoba bertahan dan akhirnya saya berfikir saya akan mati saat ini, saya akan mati tanpa ada orang yang tahu. Hingga akhirnya gelap gulita saya rasakan, saya rasa saya sudah mati…………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Cahaya mentari mulai menyinari wajah saya perlahan di pagi hari, dan saya pun terbangun dari kondisi tidak tersadarkan diri, saya rasa saya sudah di surga atau neraka sekarang. Akan tetapi saya coba untuk mencubit bagian tubuh saya, dan ternyata saya masih merasakan sakit dan itu menandakan saya masih di beri hidup, saya pun berteriak kembali dan berkata “saya masih hidup, terimakasih Tuhan”, dengan itu saya pun menangis, dan bersimpuh serta berdoa. Saya bukan siapa-siapa tanpa Tuhan, semua yang saya miliki dan saya ahli kan ternyata belum seberapa di bandingkan dengan kebesaranNYA.

Akhirnya saya memulai untuk berfikir positif kembali, saya pun mencoba memutuskan dengan kekuatan yang ada untuk mencoba kembali lagi berjuang, karena saya yakin Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk berbuat yang lebih baik, karena Tuhan selalu mencintai manusia yang selalu bersyukur dan berusaha. Akhirnya saya pun mencoba keluar dari situasi ini, dimana saya bertekad tidak akan mengulangi segala pekerjaan bodoh saya kemarin, tapi saya mencoba bercermin dengan kebodohan itu dan ternyata saya merasa masih mempunyai kekuatan untuk hidup kembali.

Saya pun memutuskan untuk mengikhlaskan apa yang saya miliki dan sayangi dari saya sewaktu dilahirkan dengan kehidupan saya ke depan, itu adalah harga yang harus saya bayar atas kesalahan saya hingga saat kemarin. Saya pun akhirnya memotong tangan saya dengan pisau buatan china tersebut, dengan sebelumya saya bendung dulu tangan saya dengan tali bermaksud agar tidak banyak darah yang keluar. Perlahan demi perlahan kulit, lemak, otot, daging, nadi, hingga tulang putih saya digergaji dengan menggunakan punggung pisau china itu karena bergerigi. Setelah tulang putih saya terpotong, kebali lagi persyaratan tingkat pemotongan tangan saya pun terpenuhi.

Saya pun akhirnya terlepas dari penderitaan ini, saya bungkus tangan buntung yang masih berdarah segar dengan baju saya, saya pun dengan sakitnya langsung bergegas dan membawa tas langsung pergi meninggalkan celah neraka tersebut. Berlari terus mencari pertolongan, hingga akhirnya saya bertemu dengan sebuah keluarga yang sedang tersesat dan akhirnya meminta bantuan kepada mereka, dan mereka pun langsung mencoba menghubungi tim pertolongan yang ada dan dekat di tempat itu. Tidak lama kemudian pesawat heli pun datang danpara petugas langsung mengangkat tubuh lemas saya kedalam pesawat.

Saya hanya bisa menangis sewaktu Tuhan memberikan pertolongan berlebih kepada saya…ini adalah pelajaran bagi saya, dan saya akan mencoba membaginya kepada semua orang di sekitar saya nanti. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu saya pun akhirnya masih mencoba melakukan hal-hal ekstreem itu, dan saya yakin dengan tindakan Tuhan memberikan teguran kepada saya, bukan berarti Tuhan memberikan perintah untuk berhenti berkarya di bidang itu, akan tetapi hanya memberikan peringatan bahwa kita adalah manusia yang berjalan di atas bumi, dimana langit di junjung tidak lebih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s