karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

Health Services Syndrome Influence

Cerita berawal dari sepasang muda dan mudi yang kemudian mengikrarkan janji suci melalui pernikahan, tanpa terasa pernikahan mereka sudah berjalan hampir 1 tahun lamanya. Selang berjalan pernikahan itu bergulir hingga bulan ke 5/6 pasangan tersebut mendambakan kehadiran seorang anak, sebagaimana yang didambakan sepasang suami-istri setelah menikah. Mereka pun tidak putus harapan untuk selalu kontrol dan walaupun sang istri bekerja di sebuah klinik yang ada di kota tersebut, keluarga tersebut ingin melakukan hal terbaik untuk kehamilan dan kelahiran putra pertamanya dengan pergi ke rumah sakit yang mereka anggap baik di kota tersebut. Dengan ikhtiar, doa serta kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan akhirnya sang istri pun positif dinyatakan hamil oleh dokter rumah sakit tersebut, dalam masa kehamilan tersebut hampir semua dokter selalu berkata untuk melakukan hal terbaik demi perkembangan janin yang ada di dalam kandungannya tersebut.

Karena pasangan tersebut merupakan pasangan yang cukup mempunyai tingkat pendidikan tinggi yang baik, ditambah lagi sang istri yang bekerja di klinik, maka mereka selalu kritis dan banyak bertanya kepada dokter spesialis kandungan yang mereka percaya di rumah sakit tersebut. Dokter pun mengetahui bahwasanya mereka adalah pasangan yang kritis terhadap perkembangan janin serta kesehatan yang harus dilindungi demi keselamatan buah hatinya nanti sewaktu akan melahirkan. Pada perjalanan kehamilan tersebut sang istri selalu memilih dan memilah asupan makanan yang dianggap paling bergizi demi sang buah hati, dan selalu menanyakan perihal perkembangan janin sang buah hati tercinta kepada dokter.

Pelayanan paripurna yang baik selalu dokter berikan kepada pasien melalui pengarahan serta hasil perkembangan janin secara maksimal dan tentunya sebaik mungkin, dokter pun selalu berkata jika janin di dalam kandungan si calon ibu tidak ada masalah atau penyakit serius yang nanti mengganggu perkembangannya. Masuk kepada bulan ke empat sewaktu selesai acara kekahan (syukuran) karena seperti di dalam Al-Quran setiap janin yang dikandung oleh seorang wanita, apabila sudah memasuki bulan ke 4 maka di tiupkan ruh kepadannya, maka setiap orang yang beragama khususnya Islam diwajibkan apabila mampu untuk melakukan acara syukuran bin nikmat dengan menyembelih domba.

Akhir acara tersebut sang ibu merasa tidak enak badan, dan keeseokan harinya badan sang ibu menjadi demam tinggi. Sang ibu pun berusaha menurunkan panas dengan kompres serta makan dan minum yang cukup dan meminum obat penurun panas yang aman bagi ibu hamil. Karena panas tidak kunjung turun maka di hari ke dua sepasang suami-istri tersebut langsung pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter langganan mereka, karena khawatir terjadi sesuatu dalam perkembangan janin dalam kandungannya. Setelah di periksa dokter berkata bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap janin dan demam panas yang di derita tidak ada kaitannya dengan perkembangan janinnya, maka sang ibu pun langsung diberi obat sesuai dengan resep dokter tersebut.

Selang waktu berjalan sang ibu pun sembuh dan melakukan aktifitas seperti biasanya dengan bekerja di klinik, datang pukul 8.00 pagi dan pulang pukul 3-4.00 sore. Jelang bulan kelahiran tiba sang ibu dan keluarganya menambah intensitas untuk kontrol ke rumah sakit favoritnya, dan selalu bertemu sang dokter spesialis langganannya dan seperti biasa sang dokter masih berkata kehamilan dan kelahirannya akan diprediksi baik serta persalinannya dapat dikatakan normal sebatas observasi teori, akan tetapi apabila tanggal jatuh tempo kelahirannya tidak kunjung lahir maka akan dilakukan operasi.

Jatuh pada bulan ke 9, akhirnya sang ibu pun melahirkan seorang putri yang sangat lucu, cantik dan menawan dengan berat badan sekitar 4,3 kg (berat yang lebih dari cukup untuk kelahiran seorang bayi). Sepasang suami-istri dan keluarga itu pun terlihat bahagia dengan kedatangan buah hati yang didambakan sejak 9 bulan yang lalu tersebut, serta sang dokter yang selalu memberikan keterangan bahwa bayi yang dilahirkan ibu tersebut sangat sehat sekali, dengan berat badan bayi di atas rata-rata bayi normal.

Anak itu pun tumbuh sehat dengan dicirikan bertambahnya berat badan sang anak dalam waktu yang cepat, perkembangan motorik serta asupan air susu ibu yang cukup normal. Dalam perkembangannya pasangan tersebut tidak lupa untuk selalu mengontrol ke rumah sakit dimana bayi tersebut dilahirkan dan dokter masih selalu merekomendasikan kebaikan dan hanya memberikan vitamin-vitamin perkembangan seusia anak batita sehat pada umumnya.Hari, minggu, bulan berlalu buah hati yang lucu itu terus berkembang menjadi seorang bayi perempuan yang menarik perhatian.

Sewaktu masuk pada usia 8 bulan, sang ibu merasakan keanehan pada anak tersebut, tanpa di sengaja sang ibu yang sedang memberikan ASI pada anak tersebut memperhatikan desah nafas pendek dan cepat seperti habis berlari jauh serta keringat banyak yang ditimbulkan sewaktu proses pemberian ASI. Karena di anggap hal yang lumrah maka sang ibu pun tidak terlalu mengkhawatirkan anak tersebut. Kontrol ke rumah sakit pun sudah jarang di lakukan pasangan tersebut. Setelah memperhatikan hari demi hari ternyata kebiasaan tersebut (setiap minum ASI) tidak kunjung berubah normal, maka pasangan tersebut membawanya ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter serta berkonsultasi.

Konsultasi pun berlangsung, dokter memberikan visum bahwa bayi ini harus di rontgen karena ada gangguan pernafasan, dokter pun memberikan rujukan untuk cek darah di laboraturium. Karena rumah sakit tersebut tidak mempunyai laboraturium yang memadahi, maka di sarankan untuk ke laboraturium poliklinik yang ada di kota tersebut. Sewaktu ambil darah dengan di suntik oleh perawat laboraturium,  anak tersebut menangis keras karena kesakitan karena mungkin tidak biasa diambil sampel darah, dan merupakan pengalaman pertama kali. Setelah selesai maka hasilnya pun di bawa ke dokter di rumah sakit favorit mereka, lalu dokter pun berkata untuk segera ke rumah sakit umum (besar) untuk observasi lebih lanjut, dikarenakan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Setelah mendapatkan rujukan dari dokter langganan tersebut, maka di bawalah sang anak ke rumah sakit umum (RS.B) untuk di cek lebih lanjut dengan fasilitas yang cukup memadahi. Selain dari pada itu maka secara otomatis dokter pun di ganti menjadi spesialis anak, dan setelah diperiksa maka sang dokter baru pun memberikan visum ada kelainan di bagian jantung anak tersebut. Sontak pasangan tersebut kaget bahwa selama ini anak kesayangannya terdapat kelainan dan itu jantung, selanjutnya dokter baru itu pun menanyakan dan ingin mendengarkan history perjalanan sewaktu hamil, partus dan perawatan sewaktu pasca persalinan kepada pasangan suami-istri tersebut.

Setelah dijelaskan oleh kedua orang tuanya maka dokter mendapatkan informasi baru yaitu sewaktu proses kelahirannya anak tersebut membiru serta tidak menangis. Karena mungkin dianggap hal yang lumrah maka dokter di RS. A memberikan visum baik terhadap anak tersebut, lanjut cerita dokter di RS.B tersebut langsung memberikan rujukan dan menyarankan untuk pindah ke RS spesialis (RS.C). Segeralah kedua pasangan suami istri tersebut membawa anaknya ke RS. C di luar kota tersebut.

Sesampainya di RS. C si anak pun langsung masuk ke ruangan laboraturium untuk di periksa kembali darahnya, dengan tujuan untuk memastikan apakah visum yang diberikan oleh RS.B tersebut benar adanya. Si Anak pun akhirnya harus merelakan tangannya kembali di suntik dengan jarum, karena kasusnya hampir sama di laboratorium pertama kali sewaktu diambil darah, maka perawat pun langsung mencari vena di bagian kaki. Sontak si anakpun menjerit kesakitan, karena dirasakan trauma yang dialami sekarang semakin parah. Setelah selesai mengambil darah perawat pun mengirim hasilnya ke laboratorium, selang waktu 2 jam lamanya orang tua si anak pun tidak henti-hentinya menanyakan tentang hasil dari pemeriksanaan di laboratorium RS. C tersebut. Akhirnya setelah di tanyakan, kaget bukan kepalang ternyata si anak harus diambil darah kembali, karena darah pengambilan pertama sudah membeku.

Permasalahan ini entah siapa yang harus bertanggungjawab, apakah pihak dari RS.C yang bertindak ceroboh atau dari sifat darah yang cepat membeku, karena ada kelainan pada jantung??. Dengan sangat terpaksa akhirnya si anak pun harus diambil kembali darahnya, dan secara mendadak kondisinya pun langsung menurun drastis, hingga akhirnya harus dimasukan ke ruang ICU. Oksigen, infus, dan alat-alat lain sekarang sudah menempel di tubuh lucunya. Si anak pun tidak sadarkan diri hingga satu hari lamanya tidak kunjung siuman.

Setelah hasil didapatkan keesokan harinya, dokter spesialis penyakit ini langsung memberikan ultimatum untuk segera mungkin dilakukan operasi karena ternyata setelah di lakukan tes lab dan tes sinar x, jantung si bayi memiliki katup yang langsung menuju ke paru-paru nya, dan itu harus segera di by pass, jika tidak si anak manis itu bisa tamat riwayatnya. Kedua orang tua itu akhirnya meminta waktu untuk berunding dengan kedua orang tua mereka, hingga akhirnya menyetujui dan secara langsung memutar otak karena harus membayar biaya yang tidak cukup sedikit.

Karena alasan demi kesehatan anaknya, akhirnya mereka memutuskan untuk setuju dioprasi walaupun kemungkinan kecil untuk selamat pada operasi tersebut. Pada akhirnya dalam posisi masih trauma, anak tersebut pun harus rela tubuhnya dipasangi berbagai macam alat bantu sementara dokter dan bagian administrasi pun memberikan informasi untuk segera menandatangani dan tentunya membayar biaya operasi yang fantastis tersebut kepada kasir Rumah Sakit tersebut. Segera kedua orang tua tersebut langsung menuju bagaian administrasi RS tersebut, sang ibu pun dengan terpaksa meninggalkan putranya dalam keadaan menangis hebat sambil memegang tangan sang ibu yang perlahan dilepaskannya, seolah si ibu jangan terus untuk meninggalkannya. Sewaktu kedua orang tuanya menuju lantai bawah dan sewaktu itu pula akan membayar, handphone berdering dari orang tua si ibu dan akhirnya berkata untuk segera kembali ke atas karena posisi trauma anaknya semakin parah dan itu membuat kondisi kian melemah. Sontak bapak si anak tersebut langsung ke lantai dimana anak tersebut akan dioprasi, dan sewaktu sang ibu akan membayar, dering telepon ibunya pun berdering ternyata suaminya yang menelpon untuk segera ke lantai atas karena kondisi anak yang kian melemah. Sewaktu sang ibu menaiki tangga, langsung berpapasan dengan sang ayah dari ibu tersebut dengan menampakan raut wajah sedih dan berkata, “kamu harus tabah anakku, dia sudah tenang sekarang di sisiNya”. Akhirnya air mata si ibu pun menetes dan menemui anaknya yang sudah tidak bernyawa lagi, si anak manis dan lucu itu akhirnya meninggal dunia dengan membawa kesedihan dan sejuta trauma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s