karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

Devisa yang tiada akhir (TKI)

Semalam (6 Februari 2014), tepat pukul 22.00 wib saya tertegun oleh informasi yang tidak sengaja saya serap melalui media televisi, informasi yang disuguhkan adalah tentang anak-anak berusia balita di sebuah rumah asuh (panti) yang terletak di daerah Cibubur Gunung Putri Bogor. Sekilas memperhatikan mereka adalah sebuah kesejukan, kecerian, kebahagian, kesenangan, mereka sangat sekali menikmati asuhan dari para pengurus panti asuhan tersebut, bermain, bercanda, tertawa, berlari dengan riang gembira. Kondisi fisik dan mental yang sepertinya tidak terganggu sehingga membuat mereka merasa aman dan nyaman dan larut di dalam dunia mereka masing-masing.

Setelah segmen satu selesai yang diselingi oleh iklan, cerita sebab akibat dibalik semua kebahagiaan yang mereka dapatkan, mulai terpaparkan tahap demi tahap kepada penikmat televisi yang mungkin secara tidak sengaja melihat tayangan tersebut seperti saya. Keberadaan anak-anak lucu nan mempesona hati dibalik tembok panti itu ternyata bermacam adanya. Awalnya saya sadar bahwa kebanyakan keberadaan atas mereka sebab dari ketidakadilan orang tua, prasangka subjektifitas saya adalah disebabkan oleh orang tua yang tidak siap secara ekonomi tetapi sudah terlanjur mempunyai anak, lalu mereka tidak mampu untuk memberi kehidupan, dan akhirnya dititipkan di panti asuhan tersebut. Harapan saya adalah saat orang tuanya sudah siap baik secara ekonomi akan kembali atau ditempatkan kepada pihak-pihak yang secara hukum bisa menjamin keselamatan dan masa depan anak tersebut.

Segmen selanjutnya adalah segmen yang saya nantikan, karena ternyata mereka adalah termasuk anak-anak bangsa khususnya anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terlantar dan diselamatkan oleh sebuah organisasi. Semenjak itu saya baru mengerti mengapa di bandara (airport) di jakarta banyak TKI yang pulang ke Indonesia dengan membawa anak-anak dalam gendongannya, setelah sebelumnya saya beranggapan mereka pasti membawa anak untuk bekerja atau sewaktu menjadi TKI sudah hamil atau juga ada suami sah-nya yang masih bekerja di negara tempat mereka bekerja. Tayangan yang saya saksikan ini memang menampilkan anak-anak yang sebagian besar berwajah seperti orang asing (indo), setelah penayangan yang semakin mendalam, ternyata anak tersebut adalah hasil korban tindak perkosaan, baik yang dilakukan oleh orang asing maupun majikan saat mereka bekerja di luar negeri, dan ada juga hasil hubungan terlarang yang didasari oleh suka sama suka.

Alhasil anak-anak hasil perbuatan tersebut tidak diharapkan oleh mereka (TKI), sebagian dari mereka apabila bernasib baik oleh orang tuanya  langsung dititipkan di panti, ada juga sebagian lagi ada yang ditinggalkan di WC (bandara), ada yang di buang atau mencoba untuk dibunuh, dan terakhir adalah dijual. Berdasarkan keterangan dari pembawa acara televisi tersebut, berdasarkan sumber yang di percaya salah satu alasan mereka adalah tidak mau menanggung beban malu (aib) karena sewaktu mereka berangkat tidak membawa anak. Beberapa orang (TKI) menuturkan

jika saya pulang dan tiba-tiba membawa anak, apa kata orang-orang di kampung saya..?!

beban hidup saya sudah sulit, apalagi harus menanggung anak yang tidak saya harapkan..

saya tidak mau anak yang saya kandung, makanya saya coba untuk gugurkan dengan minum obat-obatan..

Diantara anak-anak suci dan lucu itu ada salah seorang anak laki-laki berparas tampan, akan tetapi memiliki ketidak berdayaan secara fisik (cacat), menurut pengurus panti, anak tersebut di dapatkan dari seorang TKI yang dari sejak hamil dengan sengaja meminum obat-obatan di negara tempatnya bekerja.

Sementara itu salah satu pengurus panti juga pernah menuturkan pengalamannya, suatu hari menjelang magrib salah seorang anak kurang lebih umur 2,5 tahun (jika tidak salah dengar, karena sambil mengantuk), tiba-tiba menangis hebat dan tidak berhenti hingga menjelang tengah malam, usaha yang dilakukan pengurus sudah tidak mempan dari mulai diberi susu, digendong, dialihkan perhatian (diberi mainan), karena tidak tega melihat kondisi anak tersebut, sampai pada akhirnya  mereka mencoba menghubungi ibu kandungnya. Benak saya pun menduga pasti anak tersebut sebenarnya saat itu tidak menginginkan apa yang semua telah diberikan oleh pengurus panti, mungkin tangisannya adalah sebuah manifestasi rasa kangen yang mendalam pada ibu kandungnya.

Kedatangan ibu kandung dari anak tersebut ke panti sangat dinanti oleh anak yang rindu akan dekapan ibunya bersamaan dengan ibu pengurus panti yang sudah tidak kuasa membendung tangisan anak tersebut. Harapan ibu pengurus panti tersebut sebenarnya sangat simpel yaitu menginginkan anak yang menangis tersebut menjadi tenang setelah datang ibu kandungnya, namun hal terjadi adalah di luar batas kewajaran manusia, tiba-tiba dengan wajah geram anak tersebut langsung diraihnya dari gendongan pengurus panti, dan langsung diletakan di bahu si ibu dengan posisi berbalik arah, lalu berusaha menenangkan anak tersebut dengan cara ditepuk-tepuk secara keras punggung anaknya, ternyata usaha tersebut gagal, anak tersebut semakin tambah menangis hebat, hingga akhirnya si ibu dengan kesabaran yang mungkin terbatas pergi meninggalkan pengasuh tersebut dan mencari kamar mandi. Pikiran apa sebenarnya yang ada pada ibu kandung tersebut hingga langsung diikuti oleh pengurus panti, dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan. Dugaan pengurus panti menjadi semakin nyata, karena sambil berjalan cepat anak tersebut dibalikkan tubuhnya hingga ibu tersebut memegang kedua kaki anak tersebut, sesampainya di kamar mandi ibu tersebut ‘mencelupkan’ tubuh anak tersebut ke dalam bak yang terisi air penuh hingga sebatas perutnya lalu dikeluarkannya lagi, hal tersebut diulangnya hingga ketiga kalinya.

Mengetahui hal tersebut, pengurus panti langsung merebut dan menggendong anak tersebut dari genggaman ibu kandungnya, lalu dengan reflek pengurus panti tersebut mengusir dan menunjuk-nunjuk muka ibu tersebut sambil memaki. Kejadian amoral tersebut langsung disaksikan pengurus panti tersebut, betapa kejamnya siksaan yang didera pada anaknya di depan matanya. sehingga ibu tersebut melangkahkan kaki dan keluar, sontak ibu tersebut berteriak

jangan dimanja! saya sudah lakukan itu sewaktu saya masih kerja dulu!!

Mendengar penuturan pengurus panti tersebut tiba-tiba hati, tangan bergetar dan tanpa disadari air mata saya keluar, tangan ini rasanya ingin meremas tubuh si ibu tersebut dan menendangnya seperti bola sepak hingga hancur.

Penuturan informan lain yang juga kepala salah satu badan penanggulangan TKI, pihaknya pernah ‘menangkap basah’ pelaku penjualan anak/bayi dari ibu-ibu TKI di bandara/airport di Jakarta, berikut penuturannya

pihak kami pernah menenukan kasus penjualan anak TKI, sindikat tersebut biasanya mangkal di bandara, dan yang menjadi sasaran atau targetnya adalah para TKI yang menggendong anak

Menurut penuturan beliau sindikat tersebut sudah ada sejak lama, hanya saja tidak terlihat dan ‘terekspose. Cara kerja mereka adalah menunggu calon mangsanya bahkan hingga di depan pintu pesawat. Para TKI yang terjerat biasanya dibawa ke salah satu tempat yang aman dan langsung terjadi tawar menawar. Sindikat tersebut tidak main-main, mereka langsung membawa sejumlah uang cash untuk langsung bisa ditukar dengan anak/bayi yang dibawa oleh TKI. Penawaran sindikat tersebut juga sangat fantastis antara Rp. 50-100 juta.

Sehingga dari pada mereka malu pulang kampung karena menanggung aib memiliki anak yang tidak jelas siapa bapak kandungnya, ditambah lagi penghasilan atau gaji yang mungkin habis dalam perjalanan atau diperas pihak tertentu, akhirnya tanpa pikir panjang mereka terpedaya dengan menjual anak-anak tidak berdosa tersebut. Mata rantai dosa ini saya yakin sudah ada sejak lama, sehingga tidak akan terputus apabila kondisi situasi negeri ini masih tidak menentu.

Fenomena di atas dapat saya simpulkan bahwasanya TKI yang tersangkut kasus tersebut, tidak mau menanggung beban hidup yang berlipat, artinya sudah mereka diperas tenaganya, diperkosa hingga dihamili hingga diusir secara halus dengan diberi sejumlah uang demi jasa tutup mulut dan juga diberi biaya mengurus anak secukupnya. Akhirnya mereka mencari jalan yang menurut mereka singkat dan aman. Tentunya saya lebih senang karena ini mungkin sebagian kecil dari tindakan para pelaku yang tidak bertanggungjawab, dan saya yakin masih banyak TKI yang sukses dan bahagia tanpa harus menjadi beban negara setelah mereka kembali ke negara ini. Masalahnya adalah sampai kapan fenomena ini terus berlangsung, haruskah kita (secara tidak langsung ikut merasakan) menjadi budak di negeri orang sementara kita hidup di negeri kaya raya ini??

Tulisan ini hanyalah satu dari sekian banyak bentuk kepedulian saya atas nasib anak bangsa dan negara yang indah ini, semoga bermanfaat bagi pembaca dan tidak lupa mohon maaf apabila ada kesalahan dalam mencerna atau memaparkan informasi ini, dan sekali lagi tidak ada niat untuk menjatuhkan salah satu pihak. Salam perdamaian

images

images2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s