karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

Harmonize

Kami, manusia yang terlahir atas dasar kompetisi (you know what i mean), sehingga sudah menjadi pukulan hebat buat kami manusia saat ini untuk hidup bersaing. Persaingan bukan berarti berkonotasi negatif, akan tetapi persaingan dalam tataran kemampuan untuk mentelaah hidup agar dapat bertahan dan sekedar tidak terhempas hingga akhirnya tersisihkan.

Hidup nyata yang harus diperjuangkan adalah bentuk adaptasi yang merupakan manifestasi dari hukum objektifitas manusia. Keadaan ingin makan, berarti kita harus mencari apa yang bisa di makan, dalam keadaan haus, sadar cairan dalam jenis apa yang seharusnya dapat membasahi kerongkongan, begitu juga kebutuhan hunian, pakaian, kendaraan, bahkan buku yang akan menjadi bacaan kita, selebihnya adalah fenomena/subjektifitas

Esensi hidup untuk dapat beradaptasi sepatutnya diperjuangkan, setidaknya saat menyerah akan berbagai kondisi, selalu ingat akan berbagai hal yang telah mendidik hati untuk sepantasnya bilang ‘saya mampu bertahan’. Air susu yang tidak bisa mengalir karena kurangnya asupan makanan bergizi, bayi-bayi yang bernasib buruk dar yang terlalu susah/mahal untuk mendapatkan susu formula hingga ditakdirkan lahir ditempat yang tidak semestinya, bahkan mani (cement) yang tidak mendapatkan kesempatan untuk masuk kedalam sel telur dan gugur. Jawaban itu yang harus selalu membayangi semua pertanyaan atas keluhan karena semata-mata tidak dapat beradaptasi.

Pengelihatan di depan mata ternyata jauh tidak sebanding dengan pengelihatan saat berada jauh di angkasa, terlalu banyak masalah/hal yang tidak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu sesaat bahkan diluar batas kewajaran/pemikiran akal sehat, but it is done, its that right?, sementara kita harus bersusah payah akan setiap kondisi kehidupan yang kita hadapi ‘that is given’, please face your fear..alright?

Berdalih wajar Dia adalah Tuhan, it is not that simple answer!. apalah arti one person who live in the small area, please compared with the all of adaptation problem in the huge area?! selalu aktif menilai hal secara generatif. Naif saat dihadapkan dengan kondisi sulit untuk berkeluh berkesah, pola pikir terlalu kompleks dan sudah purba, atau antara objektifitas dan subjektifitas tidak seimbang, semua hanya membuat kami menjadi kerdil.

Ketidak mampuan bukan jawaban untuk tidak dapat bertahan, gunakan ketidakmampuan untuk dapat ‘survive’ dengan arti yang sesungguhnya. Aku bodoh, aku jelek, aku tidak berkedudukan, aku tidak bermakna, aku tidak berpendidikan dan minder adalah bukan sebuah harga mati. Kemampuan beradaptasi dengan mengindahkan keseimbangan alam/objek yang jadi tujuan secara dependen. Norma kesesuaian dan kepantasan adalah hal utama dalam upaya mengadaptasi, agar terasa tidak memaksa, seperti ada salah satu bangsa yang dilahirkan untuk tidak mempunyai wilayah/tanah/teritori tempatnya berpijak, dalam upayanya mencari lahan (adaptasi) mereka menyerang dan merebut teritori disekitarnya dengan pelbagai cara.

Prove it your self better more than animal just to be able to live in harmony. That’s given gave a life…take a life and get out from the box

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s