karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

CERMIN SEJARAH

OLYMPUS DIGITAL CAMERAEntah apa yang sedang terjadi pada atmosfir sosial di masyarakat, pasalnya dalam 3 bulan terakhir terdengar stereotip-stereotip yang mengungkap kebenaran asal usul suatu peristiwa, baik dalam buku, ceramah, diskusi, atau perkuliahan. Asal usul itu di berisikan cerita, anekdot, penuturan, hasil diskusi dan lain-lain yang berujung pada kisah yang dinamakan sejarah.

Sejarah adalah gambaran atau fakta peristiwa masa lalu yang terjadi, mengalir, dan menempel pada sendi-sendi semesta pada zamannya. Pelakunya antara manusia dan mahluk di luar manusia yang lahir pada saat sejarah mengalir tentunya satu-satunya sebagai saksi hidup hingga wafat menjemput, setelahnya dilanjutkan oleh kelahiran mahluk yang baru yang dapat melanjutkan, menambah, mengurangi, mendistorsi, bahkan mereduksi torehan sejarah yang telah dilalui oleh waktu .

Generasi terkini adalah pelanjut atas generasi sebelumnya, demikianlah seiring dengan berjalannya waktu sejarah merupakan cerminan peristiwa yang ditinggalkan dan di kontekstualkan dalam bilah-bilah buku agar ke-objektivitasannya dapat terjaga dengan baik. Proses kontekstualisasi ini tentunya sangat berpengaruh pada faktor-faktor perumus, perancang dan pemikir yang tentunya adalah manusia itu sendiri, baik yang hidup pada saat sejarah itu lahir, berkembang hingga berkelanjutan bahkan sampai saat sejarah itu terkubur. Manusia terkini sekalipun dapat menuliskannya kembali dengan gaya tulisan terbaru, untuk dapat dimengerti pada generasi terkini.

Beberapa orang hebat di dunia ini tentu sepakat untuk menghormati sejarah berdirinya suatu peradaban, dari mulai bangsa yang dilahirkan terpuruk hingga bangsa terkaya sekalipun, dari bangsa yang konservatif hingga bangsa yang modernisasi, dari bangsa yang terjajah hingga saat ini hingga bangsa yang merdeka. Kelahiran ideologi, agama, kepercayaan di dunia ini pun memang tidak terlepas dari sejarah peradaban umat yang terus mengalir dan berkembang. Kelahiran teknologi, komunikasi juga merupakan manifestasi dari berkembangnya sejarah. Kelahiran dunia ilmu kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya, sosial, dan ilmu-ilmu lain bahkan tidak terhindarkan dari apa yang dinamakan sejarah.

Sinergi manusia dengan alam dalam kehidupan ini adalah titik awal dari proses tercetaknya sejarah peradaban, seharusnya mereka semua dapat mencatatkan sejarah, akan tetapi apa daya mahluk lain di luar manusia yang tidak dapat menuliskan deretan sejarah? padahal mereka hidup berdampingan. Manusia dikatakan mahluk yang paling sempurnalah yang akhirnya berkuasa untuk mecatat setiap kejadian atas kebersamaan mereka.

Kehadiran manusia dahulu dan saat ini berhak atas segala catatan sejarah yang ditorehkan dalam tulisannya, termasuk saya. Saya juga berhak menulis atas apa yang saya ketahui, untuk dibaca oleh para pembaca  yang membaca tulisan saya tentunya (sedikit Gede Rasa). Kehebatan manusia dalam merefleksikan kejadian atau peristiwa adalah salah satu bentuk kesempurnaannya, merakit riwayat, melihat lalu setelahnya menghubungkan, membingkai risalah hingga merekayasanya.

Refleksi riwayat-riwayat yang pernah ada dan dituliskan oleh manusia mempunyai tujuan agar generasi penerus dapat belajar, dapat mengetahui, dapat memprediksi atau meramalkan sebagai acuan atau tuntunan dan panduan dalam meniti kehidupan berikutnya, berdasarkan atas informasi yang di bangun. Informasi tersebut tentunya harus berdampak positif bagi generasi berikutnya, agar dapat memperkecil kesalahan atau kekacauan atas *hukum di dunia ini.

Kehebatan manusia dalam mentorehkan riwayat tentulah bergantung pada visi dan misi, faktor psikologis atau juga dimensi sosial/sudut pandang hingga kepentingan individualistik dalam mencatat riwayat tersebut. Penulis/pengarang yang menuliskan atau mencatat riwayat dari asal usul untuk dijadikan sebuah hikayat membutuhkan pemikiran mendalam, agar rekaan dapat disambung dan dipadupandankan berdasarkan puzzle sejarah yang tercerai, apalagi jika terbukti sejarah tersebut terputus oleh dimensi waktu.

Benang merah pembuatan hikayat inilah tentunya yang harus dicermati oleh mereka, karena tidak menutup kemungkinan benang yang seharusnya tersambung dari putusan sejarah akan tidak tersambung, bahkan tidak nyambung. Ketersandungan informasi yang diwariskan dikhawatirkan akan menjadi penyampai atas susunan sejarah yang salah, yang pada akhirnya warisan sejarah yang ditinggalkan generasi sebelumnya akan menjadi ideologi sosial yang tidak dapat tercerminkan dan akhirnya menetap.

Apakah fakta sejarah itu dapat disimpulkan tidak objektif? atau fakta sejarah yang ada adalah rumusan subjektifitas manusia? itu bisa di jawab oleh manusia itu sendiri dalam memahami hikayat kehidupan. Dalam memahami tentulah harus berguru pada ahli atau pakarnya, jangan berdasarkan stereotip-stereotip apa lagi dari manusia yang mempunyai tujuan tertentu yang dapat merusak generasi. Adapun kesalahan yang dapat ditimbulkan oleh pakar tersebut, tidak terlepas dari peran kekurangan manusia yang dapat dipertanggungjawabkan bersama, karena terpilihnya para ahli tersebut hasil dari pergumulan daulat oleh manusia yang berguru kepadanya.

Selayaknya sejarah digunakan seperti halnya “spion kendaraan”, yang dapat dilihat sewaktu-waktu saja dan langsung diimplementasikan kembali ke arah kehidupan di depannya, bukan dilihat seterusnya karena masih terjadi proses kehidupan selanjutnya. Spion yang baik dan benar itu adalah apabila kacanya  tidak bergelombang, tidak cacat pabrik atau tidak pecah dan menjadi tuntunan arah secara **linear. Dimanakah harus membeli spion yang sesuai standar ***(SNI)? jawabannya adalah dari yang Maha menciptakan kaca spion-spion tersebut langsung melalui perantaraNya yang dapat dipercaya, sehingga tanpa rekayasa dan manipulatif demi kepentingan individual, golongan atau kelompok tertentu.

*alam, semesta dan manusia, **idealis, ***Standar Nasional Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s