karena apa yang dapat di beri, bukan apa yang dapat di terima

Revolusi Ibadah

revolutionSejak pertama ideologi ini diperkenalkan kepada kami melalui tangan Tuhan melalui utusan yang berlapis, hingga akhirnya sampai pada kakek, nenek hingga orang yang melahirkan saya dan sekarang baru menitis pada putri buah cinta saya dan istri tercinta, sejak itu pula saya merasakan apa itu revolusi, reformasi, demokrasi, hingga liberalisasi dan kapitalisasi ideologi. Ideologi yang sejatinya adalah hak kebebasan memilih apa yang menjadi pilihan hati, akan menjadi petak-petak kebebasan yang terus dialiri rasisme kelompok melalui pematang-pematang keyakinan yang sudah jelas adanya.

Rasisme kelompok yang sudah terbentuk dan terbentur oleh dinding-dinding atau sekat-sekat sejarah dan keilmuan membentuk pribadi-pribadi yang berbeda dan siap untuk mendukung, memperjuangkan, hingga menebar keyakinan sebagai solutive finishing dalam permasalahan hidup. Hingga saya tidak mungkin tidak terkena atmosfir rasisme dan masuk dalam salah satu kelompok tersebut. Kewajiban dan hak yang saya dapat pada kelompok ini sudah menjadi syariat, dan itu terjadi juga pada kelompok lain.

Tulisan ini dibuat karena bentuk rasa ‘melow’ bukan ‘galau’. Tuhan telah memberikan tahapan atau revolusi juga pada umur seseorang yang harus dinikmati pada setiap tahapannya, dari kecil beban pikiran hanya main, beranjak remaja trendnya pasti ditanya cita-cita oleh semua teman orang tua atau kolega ayah dan ibu, dan jawaban saya pasti sudah pada tahu kan?, dewasa pertama resah akan status diri, idealis, eksistensi, mandiri. Dewasa atas mulai masuk pikiran antara abjektivitas, subjektivitas, positivisme, empiris hingga bermacam ideologi/keyakinan yang bermacam strukturnya.

Kembali ke rasisme kelompok, saat saya sedang menikmati kelompok saya di usia ini dengan semangat dan motivasi tinggi bahkan mengorbankan beberapa acara demi eksistensi dan pengakuan kelompok, saya di hadapkan dengan dinding kelompok lain yang sangat menjulang, sehingga saat akan beribadah misalnya di rumah ibadah yang saya belum pernah kunjungi, saya terlampau memikirkan apakah cara, teknik atau syariat yang saya pelajari di kelompok saya sesuai dengan tempat ibadah yang baru saya gunakan untuk beribadah.

Alhasil, saya harus berfikir logis dengan mendasar pada sumber yang dapat dipercaya yaitu wahyu yang diturunkan secara langsung melalui kitab suci. Besar kemungkinan terjadi distorsi informasi apabila meyakini sesuatu tanpa bukti. Golongan, kelompok dari sebuah ideologi organisasi harus disadari mereka adalah satu aliran kepercayaan dengan yang kita yakini dan membaca atas kitab suci yang sama, Tanpa mengurangi rasa hormat, lebih baik kita tidak saling mengadu ilmu dengan apa yang kita yakini paling benar. Hal ini akan dapat memecahkan persatuan umat, apalagi diboncengi oleh sekte atau kepentingan kekuasaan kelompok di luar aliran ideologi yang kita yakini.

Tahapan selanjutnya apa kiranya…ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s